Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta. Dalam kesempatan itu, dia melaporkan bahwa Indonesia tidak akan melakukan impor solar pada 2026.
"Yang paling penting adalah tentang kedaulatan energi. Tadi kami melaporkan kepada Bapak Presiden Prabowo, 2026 Insya Allah kita nggak akan impor solar lagi," tutur Bahlil di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/11).
Bahlil menyatakan, Indonesia bisa berhenti mengimpor solar pada 2026 lantaran kebutuhan komoditas tersebut dapat terpenuhi lewat kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan.
"Karena RDMP kilang kita yang di Balikpapan Insyalllah 10 November ini akan kita resmikan," jelas.
Bahkan kata Bahlil, Indonesia berpotensi mengalami kelebihan suplai solar dan dapat melakukan ekspor ke luar negeri. Ini bisa terjadi karena pemerintah terus mendorong mandatori biodiesel yang mengandung fatty acid methyl ester (FAME) minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) sebesar 50 persen dalam komposisi BBM solar atau B50.
"Kalau kita dorong B50 lagi untuk ke depan, berpotensi untuk kita bisa suplai kita bisa terjadi lebih terhadap solar dan bisa kita ekspor," Bahlil menandaskan.
Advertisement
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan rencana implementasi Program B50. Program ini merupakan penggunaan bahan bakar solar dengan campuran 50 persen bahan nabati.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Program B50 akan mulai dijalankan pada semester II tahun 2026. Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor solar.
Presiden Prabowo Subianto secara khusus mendorong percepatan implementasi program ini, dari sebelumnya B40 menjadi B50. Uji coba mandatori B50 saat ini masih terus dilakukan untuk memastikan kesiapan penuh.
Advertisement
Menteri Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki keinginan kuat untuk mempercepat implementasi Program B50. Percepatan ini menjadi prioritas mengingat potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam produksi bahan bakar nabati.
Saat ini, Indonesia masih mengimpor solar sekitar 4,9 hingga 5 juta ton setiap tahunnya. Ketergantungan ini membebani neraca perdagangan dan devisa negara secara signifikan.
Dengan implementasi Program B50, Bahlil optimis impor bahan bakar, khususnya solar, dapat ditekan secara drastis. Produksi BBM dalam negeri yang dicampur dengan bioetanol diharapkan dapat mencukupi seluruh kebutuhan nasional.
Program B50 ini sedang dalam tahap uji coba intensif untuk memastikan kompatibilitas dan efisiensi. Jika uji coba ini berhasil, Indonesia akan selangkah lebih maju dalam mencapai kemandirian energi.