Bandung, 19 Oktober – Setelah 11 tahun absen, gelaran akbar Pasar Seni ITB kembali menyapa publik dengan antusiasme luar biasa. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa kembalinya acara ini merupakan momen strategis. Ia melihatnya sebagai pendorong utama bagi sektor ekonomi kreatif dan diplomasi budaya Indonesia.
Dalam sambutannya di hari kedua Pasar Seni ITB, Minggu, Widiyanti menyoroti dampak ekonomi langsung dari acara ini. Ia menyebut bahwa kegiatan tersebut berhasil menggerakkan berbagai sektor. Ini termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pelaku kuliner, seniman, hingga jasa transportasi dan akomodasi di Bandung.
Lebih dari sekadar pameran seni, Pasar Seni ITB juga dipandang sebagai sarana promosi pariwisata berbasis kreativitas yang efektif. Melalui eksposur luas, acara ini diharapkan dapat memperkuat nation branding Indonesia. Selain itu, ia juga bertujuan memperluas people to people contact di tingkat global, sejalan dengan program Kemenpar 'Event by Indonesia'.
Advertisement
Advertisement
Pasar Seni ITB: Momen Strategis Ekonomi Kreatif Nasional
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana secara lugas menyatakan bahwa Pasar Seni ITB adalah contoh sukses sebuah event yang selaras dengan visi Kemenpar. Program 'Event by Indonesia' bertujuan untuk mengangkat potensi acara-acara lokal ke kancah nasional dan internasional. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga katalisator pertumbuhan ekonomi.
Dampak ekonomi langsung dari penyelenggaraan Pasar Seni ITB sangat terasa di berbagai lapisan masyarakat. Ribuan UMKM lokal mendapatkan platform untuk memamerkan dan menjual produk mereka, mulai dari kerajinan tangan hingga kuliner khas. Hal ini menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan, memberikan pendapatan bagi para pelaku usaha kecil dan menengah.
Selain itu, acara ini turut memberdayakan para seniman, baik yang sudah mapan maupun talenta baru, untuk menampilkan karya-karya mereka. Sektor jasa pendukung seperti transportasi dan akomodasi juga merasakan lonjakan permintaan. Ini menunjukkan bahwa Pasar Seni ITB memiliki efek domino positif terhadap perekonomian daerah dan nasional.
Advertisement
Widiyanti menambahkan bahwa Pasar Seni ITB juga berperan penting dalam mempromosikan pariwisata Indonesia melalui kreativitas. Dengan menarik perhatian publik yang luas, acara ini secara tidak langsung memperkuat citra Indonesia di mata dunia. Ini membantu membangun koneksi budaya antarmanusia di tingkat global, sebuah bentuk diplomasi budaya yang efektif.
Advertisement
Antusiasme Publik dan Kisah Personal Menpar Widiyanti
Antusiasme publik terhadap kembalinya Pasar Seni ITB melampaui ekspektasi panitia dan pemerintah. Menteri Widiyanti mengungkapkan rasa gembiranya atas lonjakan jumlah pengunjung yang signifikan. "Awalnya ditargetkan 15.000 pengunjung, tapi saya dapat laporan, yang membeli tiket sudah hampir 500.000. Ini luar biasa, bahkan mudah-mudahan bisa tembus 600.000," tutur Widiyanti.
Angka fantastis ini menunjukkan betapa besarnya kerinduan masyarakat akan gelaran seni budaya berskala besar seperti Pasar Seni ITB. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi indikator kesuksesan acara, tetapi juga cerminan potensi besar industri kreatif di Indonesia. Ini juga membuktikan bahwa seni memiliki daya tarik yang kuat untuk menggerakkan massa.
Di balik kesuksesan acara, terdapat pula momen personal yang dibagikan oleh Menpar Widiyanti. Ia memiliki kedekatan emosional dengan Bandung dan dunia seni, yang terjalin melalui ibunya, pelukis Kartini Basuki, yang juga hadir di acara tersebut. "Ibu saya adalah pelukis, murid dari almarhum Bapak Sujoyono. Bandung dan ITB memiliki tempat istimewa di hatinya, kakek saya juga sempat mengajar di ITB," ungkap Widiyanti.
Advertisement
Sebagai bentuk dukungan dan ikatan emosional, ibu Menpar, Kartini Basuki, mendonasikan sebuah lukisan berjudul "Sukulen" untuk ITB. Lukisan ini memiliki makna mendalam. "Lukisan ini terinspirasi dari tanaman sukulen di batang pohon kering, simbol keteguhan hidup. Ia memancarkan keindahan dan kekuatan," jelas Widiyanti, menambahkan nilai filosofis pada sumbangan tersebut.
Sumber: AntaraNews