Perang Israel melawan Iran menyisakan kesedihan di masyarakat. Perang makin memanas, masyarakat semakin tersiksa, termasuk rakyat Israel sendiri. Tidak hanya korban perang, ekonomi Israel sepertinya juga tidak stabil di tengah perang. Hal ini terlihat dari jumlah orang miskin di Israel yang cukup banyak.
Namun demikian, anggaran perang Israel terbilang sangat besar. Seorang penasihat pemerintah membocorkan bahwa Israel menghabiskan dana sebesar USD 300 juta (Rp 4,89 triliun) per hari untuk perang melawan Iran. "Pemerintah ini siap membayar berapa pun harga perang dengan Iran,” kata penasihat tersebut.
"Bahkan jika itu berarti menguras cadangan dan menjerumuskan Israel ke dalam utang selama beberapa generasi,” tambah dia, seperti dikutip dari Quds News Network, Selasa (17/6).
Di balik fakta tersebut, ternyata hampir dua juta orang di Israel hidup di bawah garis kemiskinan sepanjang tahun 2023, termasuk 872.400 anak-anak dan 158.500 lansia. Data ini dikutip dari laporan tahunan Lembaga Asuransi Nasional Israel (National Insurance Institute/NII).
Secara keseluruhan, terdapat 1,98 juta orang yang masuk kategori miskin. Angka ini menempatkan Israel sebagai negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi kedua di antara negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) berdasarkan pendapatan bersih, hanya berada di atas Kosta Rika yang menempati posisi terakhir.
Data tersebut menunjukkan bahwa 20,7 persen penduduk Israel hidup dalam kemiskinan. Persentase anak-anak yang hidup miskin mencapai 27,9 persen, sementara untuk warga lanjut usia angkanya berada di 12,8 persen. Meski demikian, terdapat sedikit penurunan angka kemiskinan anak dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 28,1 persen pada 2022. Sementara itu, tingkat kemiskinan di kalangan lansia tidak mengalami perubahan.
Anak-anak mencakup 44 persen dari seluruh populasi miskin, meskipun secara demografis mereka hanya mewakili 32,5 persen dari populasi nasional. Demikian mengutip lama Times of Israel.
Advertisement
Walaupun laporan ini mencatat bahwa Israel memiliki tingkat kemiskinan tertinggi kedua di OECD, perbandingan tersebut menggunakan data tahun 2023 untuk Israel, sementara beberapa negara lain, termasuk Amerika Serikat, masih mengacu pada data tahun 2022.
Dalam laporan OECD untuk 2022, AS berada di posisi kedua terburuk dengan tingkat kemiskinan 18 persen, dan Israel di angka 16,9 persen. Rata-rata tingkat kemiskinan di negara-negara OECD adalah 11,6 persen.
NII menetapkan ambang batas pendapatan bulanan minimum yang digunakan untuk menentukan status kemiskinan. Untuk individu, ambang batasnya adalah NIS 3.324 (sekitar Rp13,7 juta), untuk pasangan NIS 6.648 (Rp27,5 juta), dan keluarga dengan dua anak NIS 10.637 (Rp44 juta). Jumlah ini meningkat seiring jumlah anak, dengan keluarga lima anak memerlukan minimal NIS 15.789 (Rp65,4 juta) agar tidak termasuk miskin.
Permukiman ultra-Ortodoks Modiin Ilit tercatat sebagai kota termiskin di Israel dengan tingkat kemiskinan 48,3%, disusul Yerusalem (38,3 persen), Beit Shemesh (36,3 persen), Bnei Brak (30,7 persen), dan Lod (21,2 persen).
Laporan juga mencatat bahwa harga-harga naik sebesar 4,2 persenselama 2023, menekan daya beli kelompok berpendapatan rendah. Akibatnya, 9,7 persen warga mengaku terpaksa tidak menjalani pengobatan karena kendala biaya, dan 5 persen tidak mampu makan makanan hangat setidaknya sekali dalam dua hari.
Advertisement
Perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza juga memperlambat pertumbuhan ekonomi Israel, dari 6,5 persen pada 2022 menjadi hanya 2 persen di tahun 2023. Konflik ini berdampak besar terhadap kaum muda yang dipanggil untuk bertugas dalam cadangan militer atau kehilangan pekerjaan karena tempat kerja ditutup. Industri pariwisata dan kuliner juga terpukul akibat penurunan permintaan.
Laporan juga mencatat bahwa tanpa subsidi pemerintah untuk keluarga berpendapatan rendah, tingkat kemiskinan diperkirakan akan melonjak menjadi 31,1 persen, naik dari 30,6 persen pada 2022.
Sebagai bagian dari rekomendasi, Lembaga Asuransi Nasional meminta pemerintah berhati-hati dalam menerapkan Arrangements Law, sebuah undang-undang yang menyertai anggaran negara dan mengatur penyaluran dana agar kelompok rentan tidak semakin terdampak.
Perang di Gaza sendiri dimulai pada 7 Oktober 2023, saat kelompok militan Hamas melancarkan serangan lintas batas yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel. Sehari setelah serangan Hamas, kelompok Hizbullah dari Lebanon juga meluncurkan serangan terhadap Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Gaza. Konflik dengan Hizbullah berakhir bulan lalu setelah dicapai kesepakatan gencatan senjata.
Sejak Oktober 2023, Israel diperkirakan telah menghabiskan USD 85 miliar (Rp1.385 triliun) untuk perang di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Suriah. Angka tersebut belum mencakup eskalasi terbaru dengan Iran.