Yuli Astuti bukan hanya menjaga warisan budaya batik Kudus, tapi juga mengubah kehidupan banyak orang di sekitarnya melalui Muria Batik Kudus, brand yang dirintisnya sejak 2005. Dengan tekad kuat, Yuli memberdayakan perempuan dan penyandang disabilitas agar mandiri secara ekonomi.
“Tujuan saya adalah melatih mereka supaya bisa mandiri,” kata Yuli saat mengikuti acara Sustainability Implementation Mentoring & Monitoring kedua Pertapreneur Aggregator di Kudus, Jawa Tengah.
Yuli mengungkapkan, batik Kudus sempat menghadapi ancaman kepunahan karena generasi muda enggan meneruskan tradisi membatik. Untuk itu, dia mengajak anak muda di sekitarnya belajar menggunakan canting dan teknik membatik. Selama belasan tahun, Yuli giat membina mereka agar mahir membatik.
Selain itu, perempuan sekitar juga direkrut sebagai pembatik. Mereka diberi kesempatan bekerja dengan jam kerja fleksibel sehingga bisa tetap mengurus keluarga. Bahkan, sebagian pembatik dapat menghasilkan batik dari rumah masing-masing.
“Kami beri fleksibilitas waktu agar mereka bisa menjaga keseimbangan antara kerja dan keluarga,” ujar Yuli.
Lebih jauh, Muria Batik Kudus juga membuka kesempatan kerja bagi disabilitas, anak berkebutuhan khusus, dan kelompok rentan seperti lansia. Yuli ingin usahanya menjadi tempat inklusif yang peduli bagi mereka yang memerlukan perhatian khusus.
Kini, Muria Batik Kudus berkembang pesat dan menjadi aggregator bagi 10 UMKM, terutama yang bergerak di industri kreatif dan tekstil. Prestasi ini mengantarkan Yuli meraih dua penghargaan di ajang Pertapreneur Aggregator 2024 dari PT Pertamina (Persero), yaitu juara 3 dan pemenang kategori pemberdaya inklusif dengan hibah alat produksi senilai Rp70 juta.
Yuli mengaku mendapat banyak manfaat mengikuti program tersebut. Berkat pendampingan mentor profesional, ia mempelajari berbagai strategi bisnis dan cara berkolaborasi dengan UMKM lain. Targetnya, bisa merangkul 10 sampai 15 UMKM lain ke depannya.
Selain itu, Yuli menerima alat pengolah limbah yang mempercepat proses kerja dan ramah lingkungan.
“Sebelumnya, pengolahan limbah dilakukan manual dan memakan waktu lama. Sekarang limbah kami tidak mencemari lingkungan dan bisa didaur ulang,” ujarnya.
Produk Muria Batik Kudus kini telah menembus pasar internasional, mulai dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga Thailand. Batik karya Yuli, anak muda, perempuan, dan kelompok rentan yang dibinanya, semakin dikenal luas.
Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menjelaskan bahwa Pertapreneur Aggregator bertujuan mencetak UMKM aggregator yang mampu membantu usaha kecil lain agar naik kelas. Program ini adalah kelanjutan dari pendampingan UMK Academy milik Pertamina.
Selain hibah alat produksi, para pemenang juga mendapat pelatihan dan pendampingan intensif selama setahun agar menjadi UMKM aggregator yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus berdampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Komitmen Pertamina dalam mengembangkan UMKM sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya menciptakan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, dan mengembangkan industri kreatif,” jelas Rudi.