Forbes belum lama ini merilis daftar orang paling kaya di dunia. Banyak negara menyumbang sosok orang terkaya termsuk dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat dan banyak lainnya.
Namun, dari daftar tersebut hanya satu orang saja dari Zimbabwe yang masuk daftar. Dia adalah Strive Masiyiwa. Menurut data Forbes, kekayaan Strive mencapai USD1,2 miliar atau sekitar Rp19,7 triliun. Total kekayaan Strive turun dibanding 2025 yang mencapai USD1,8 miliar.
Strive Masiyiwa merupakan sosok yang meluncurkan jaringan telepon seluler Econet Wireless Zimbabwe, di negara kelahirannya pada tahun 1998.
Dia memiliki 38 persen saham Econet Wireless Zimbabwe yang diperdagangkan secara publik, yang merupakan salah satu bagian dari Grup Econet miliknya yang lebih besar, serta sekitar 33 persen saham perusahaan transfer uang berbasis telepon seluler EcoCash.
Masiyiwa yang saat ini berusia 64 tahun juga memiliki saham di perusahaan swasta Liquid Intelligent Technologies, yang menyediakan layanan serat optik dan berbasis cloud untuk perusahaan telekomunikasi di seluruh Afrika.
Aset lainnya termasuk investasi di perusahaan fintech dan distribusi listrik di Afrika ditambah opsi saham di Netflix, tempat dia menjabat sebagai dewan direksi sejak Desember 2020.
Dia dan istrinya Tsitsi mendirikan Higherlife Foundation, yang mendukung anak-anak yatim piatu dan miskin di Zimbabwe, Afrika Selatan, Burundi, dan Lesotho.
Advertisement
Zimbabwe adalah sebuah negara yang terkurung daratan terletak di Benua Afrika, tepatnya di bagian selatan. Ibukota Zimbabwe adalah kota Harare.
Dilansir dari Kementerian Keuangan RI, Kamis (8/6), Zimbabwe pernah mengalami hiperinflasi hingga 231 juta persen yang dikarenakan Bank Sentral Zimbabwe yaitu Reserve Bank of Zimbabwe (RBZ) mencetak uang secara rutin untuk mendanai defisit anggaran negaranya.
Akibatnya, mata uang Zimbabwe yaitu Dolar Zimbabwe (ZWD) mengalami penurunan nilai secara drastis hingga USD 1 ditukar dengan 300.000.000.000.000 dolar zimbabwe pada tahun 2009.
Akhirnya dolar Zimbabwe semakin tak berharga, masyarakat pun menggunakan dolar Amerika untuk melakukan transaksi. Bahkan menurut situs cavenmansircur.com, untuk membeli 3 butir telur saja masyarakat harus membawa uang 100 miliar dolar Zimbabwe pada tahun 2015 lalu.