Fenomena penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) atau yang lebih dikenal sebagai paylater dari perbankan di Indonesia terus mengalami lonjakan. Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2025 menunjukkan nilai transaksi paylater mencapai Rp22,78 triliun.
Angka ini meningkat sekitar Rp800 miliar dibandingkan Februari 2025 yang masih berada di angka Rp21,98 triliun.
Seiring dengan kenaikan nilai transaksi, jumlah pengguna layanan paylater juga bertambah signifikan. OJK mencatat, pada Maret 2025 terdapat 24,56 juta pengguna, naik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 23,66 juta rekening.
Angka ini memperlihatkan tren konsumsi masyarakat yang makin bergeser ke arah penggunaan fasilitas kredit jangka pendek, meski dibayangi dengan risiko terhadap kondisi keuangan pribadi.
Utang paylater di perusahaan pembiayaan pada Maret 2025 juga tercatat meningkat 39,3 persen year on year (yoy). Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pembiayaan Buy Now Pay Later BNPL) atau sering disebut dengan paylater oleh perusahaan pembiayaan pada Maret 2025 naik 39,3 persen menjadi Rp8,22 triliun.
Perencana Keuangan, Imelda Tarigan menyebut penyebab utama lemahnya kemampuan keuangan masyarakat bukanlah inflasi karena saat ini inflasi tergolong rendah, melainkan karena penurunan pendapatan.
"Pendapatan yang berkurang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), usaha yang merugi, atau faktor lainnya," kata Imelda kepada merdeka.com, Selasa (13/5).
Imelda menilai peningkatan penggunaan paylater menjadi indikator melemahnya daya beli masyarakat.
"Jika tabungan menurun sementara utang melalui skema pay later meningkat, itu jelas menunjukkan penurunan kemampuan belanja. Kebutuhan tetap harus dipenuhi, tetapi ketika dana tidak tersedia, masyarakat terpaksa berutang," katanya.
Advertisement
Porsi Tabungan Menipis
Namun, di balik meningkatnya penggunaan paylater, tersimpan ironi terkait penurunan proporsi tabungan masyarakat. Bank Indonesia (BI) melalui Survei Konsumen periode April 2025 menunjukkan bahwa masyarakat cenderung mengurangi dana yang dialokasikan untuk ditabung.
Pada April 2025, proporsi tabungan tercatat sebesar 14,8 persen, turun dibandingkan April 2024 yang masih berada di angka 16,7 persen.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan Maret 2025 yang hanya 13,8 persen, angka pada April tahun ini menunjukkan sedikit perbaikan.
Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, masyarakat dengan pengeluaran Rp1 juta - Rp2 juta hanya mampu menabung sekitar 14 persen dari pendapatannya.
Sementara itu, untuk kelompok dengan pengeluaran Rp2,1 juta - Rp3 juta, proporsi tabungan naik sedikit menjadi 14,5 persen. Pada kelompok pengeluaran Rp3,1 juta - Rp4 juta, rasio tabungan tercatat sebesar 15,3 persen.
Sedangkan mereka yang memiliki pengeluaran Rp4,1 juta - Rp5 juta menyisihkan 14,8 persen, dan kelompok dengan pengeluaran lebih dari Rp5 juta mampu menabung sebesar 16,5 persen dari pendapatan mereka.
Advertisement
Bertahan Hidup Makan Tabungan
Tren menurunnya tabungan ini juga diperkuat oleh temuan riset Katadata Insight Center (KIC) yang mengungkap bahwa banyak kalangan kelas menengah memilih bertahan hidup dengan makan tabungan ketimbang berutang. Mereka cenderung menolak opsi pinjaman berbunga meski dihadapkan pada tekanan finansial.
Sebanyak 70 persen responden riset tersebut menyatakan melakukan perencanaan keuangan secara aktif. Satu dari dua responden memisahkan anggaran untuk tagihan dan kebutuhan harian. Lebih dari 40 persen juga secara rutin mencatat pengeluaran mereka.
"Perilaku positif juga tercermin saat kelas menengah mengalami pengeluaran lebih besar dari pada pendapatan. Mayoritas responden (76,3 persen) memilih untuk menggunakan tabungan alias makan tabungan untuk bertahan hidup," ujar Peneliti yang juga Direktur Riset Katadata Insight Center (KIC), Gundy Cahyadi.
Menurut Gundy, hanya sebagian kecil responden yang memilih untuk menggunakan pinjaman berbunga sebagai solusi keuangan. Artinya, hanya sebagian kecil yang memilih opsi-opsi pinjaman berbunga (masing-masing kurang dari 15 persen).
Perilaku ini menunjukkan pengelolaan keuangan yang tergolong baik, lantaran mereka cenderung menghindari utang dan lebih mengandalkan cadangan keuangan pribadi untuk bertahan hidup.
Gundy juga menambahkan kelas menengah tetap berupaya menyisihkan sebagian penghasilannya untuk masa depan.
"Kelas menengah mengalokasikan 19,3 persen penghasilan untuk tabungan. Sebagian besar berencana menggunakan tabungan ini sebagai dana darurat," tutur Gundy.