Alunan tembang Dhandhanggula mengiringi suasana sakral di pelataran Kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara. Di tengah heningnya pagi, upacara penjamasan dimulai, namun bukan untuk benda pusaka, melainkan untuk anak-anak berambut gimbal yang akan menjalani ritual ruwatan.
Ritual pemotongan Rambut Gimbal Dieng ini diperkirakan telah menjadi tradisi masyarakat Dieng selama ratusan tahun silam. Kini, tradisi tersebut dikemas menjadi bagian penting dari agenda wisata tahunan, Dieng Culture Festival (DCF), yang diselenggarakan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa.
Anak-anak berambut gimbal, yang sering disebut anak bajang, diyakini sebagai titisan Kiai Kolodete, seorang tokoh sakti pembuka kawasan Dieng. Rambut gimbal ini tumbuh alami sejak balita, seringkali didahului demam, dan hanya bisa dipotong melalui ruwatan agar tidak tumbuh kembali atau menyebabkan sakit.
Advertisement
Advertisement
Tradisi Ruwatan dan Asal-Usul Rambut Gimbal
Upacara ruwatan anak berambut gimbal di Dieng selalu diselimuti suasana mistis dan khidmat, dimulai dengan penjamasan di Kompleks Candi Arjuna. Tradisi ini berakar kuat pada legenda Kiai Kolodete, sosok berambut gimbal panjang yang bersumpah tidak akan mencukur rambutnya sebelum Dieng makmur. Ia dipercaya menitiskan rohnya kepada anak-anak yang baru lahir atau mulai berjalan, yang kemudian tumbuh rambut gimbal secara alami.
Anak-anak yang memiliki Rambut Gimbal Dieng ini diyakini akan sakit jika rambut mereka dipotong tanpa melalui ritual ruwatan yang tepat. Prosesi ini tidak bisa dipaksakan, melainkan harus atas permintaan sang anak sendiri, meskipun orang tua telah menyiapkan dana. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan spiritual antara anak gimbal dengan tradisi leluhur mereka.
Mengingat biaya ruwatan yang tidak sedikit, Pokdarwis Dieng Pandawa berinisiatif menyelenggarakan ruwatan massal sebagai bagian dari Dieng Culture Festival. Ini bertujuan untuk meringankan beban orang tua sekaligus melestarikan tradisi unik yang telah menjadi identitas Dataran Tinggi Dieng. DCF menjadi wadah bagi banyak keluarga untuk melaksanakan kewajiban budaya ini.
Advertisement
Advertisement
Dieng Culture Festival: Antusiasme dan Tantangan Pemenuhan Permintaan
Dieng Culture Festival (DCF) XV Tahun 2025 mengusung tema “Back to Culture”, dengan 80 persen konten acara berfokus pada seni dan tradisi lokal seperti sendratari, ketoprak, dan ndolalak. Pada DCF tahun ini, delapan anak berambut gimbal dari berbagai daerah mengikuti ruwatan massal, masing-masing dengan permintaan unik yang harus dipenuhi panitia.
Permintaan anak-anak yang diruwat sangat beragam, mulai dari barang sederhana hingga yang sulit dicari. Berikut beberapa di antaranya:
- Adinda Wijayanti Putri (Depok): Dicukur oleh pemangku adat Dieng (Wak Iyeng).
- Aisyah Rahmadani (Banjarnegara): Baju kembar dan sepeda lipat biru.
- Adinda Nesya Salsabila (Wonosobo): Menanggap lengger dan ponsel.
- Faedza Ahmad Al Afghani (Kulon Progo): Mobil-mobilan remote control.
- Aisyah Alifah Syaefudin (Batang): Dua gelang emas dan buku belajar lengkap.
- Yulviana (Wonosobo): Ponsel baru, buah rambutan, dan buah jambu air.
- Shajfa Syaqila Sakennarava (Wonosobo): Sepatu roda, ingkung ayam, dan ingkung bebek.
- M Ghibran Althaf Dhaifullah (Wonosobo): Satu perangkat tablet.
Advertisement
Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, Alif Faozi, mengakui kesulitan dalam memenuhi beberapa permintaan, seperti buah rambutan yang belum musim atau permintaan yang sangat tidak biasa. Pengalaman ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan spiritual antara anak gimbal dengan permintaannya, di mana kegagalan pemenuhan bisa berdampak pada kondisi anak.
Meskipun penuh tantangan, panitia DCF berusaha keras memenuhi setiap permintaan sebagai bentuk penghormatan dan dukungan sosial. Mereka meyakini bahwa event ini juga merupakan kegiatan sosial yang membantu keluarga yang membutuhkan, menegaskan komitmen mereka terhadap pelestarian tradisi dan kesejahteraan masyarakat.
Advertisement
Rambut Gimbal: Simbol Budaya dan Penggerak Ekonomi Lokal
Rambut gimbal, yang dulunya mungkin dianggap sebagai anomali, kini diterima sebagai anugerah Ilahi yang membawa kebanggaan bagi masyarakat Dieng. Tradisi ini bukan hanya menyimpan nilai spiritual, tetapi juga telah menjadi peluang ekonomi yang signifikan melalui pariwisata dan pemberdayaan UMKM lokal.
Konsistensi penyelenggaraan DCF selama 15 tahun telah memberikan dampak besar pada perputaran ekonomi daerah dan penguatan identitas budaya. Kementerian Pariwisata bahkan mengapresiasi festival ini karena identitasnya yang kuat, mulai dari ritual cukur Rambut Gimbal Dieng hingga kearifan lokal masyarakat, berpotensi menjadi agenda wisata budaya berkelas dunia.
Meskipun DCF XV tidak mendaftar ke dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Tahun 2025 karena ingin kembali ke akar budaya, antusiasme pengunjung tetap tinggi. Paket wisata terjual habis, membuktikan daya tarik Dieng sebagai tujuan utama wisatawan, terlepas dari absennya pertunjukan modern seperti Jazz Atas Awan.
Advertisement
Pada akhirnya, Rambut Gimbal Dieng lebih dari sekadar ciri fisik; ia adalah simbol keberkahan dan pengingat akan keterhubungan manusia dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Warisan budaya ini adalah karunia yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan untuk generasi mendatang, menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi kekuatan pendorong bagi identitas dan kemajuan daerah.
Sumber: AntaraNews