Minat baca masyarakat Indonesia nyatanya masih jadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Sebab, Indonesia masih menjadi negara dengan minat baca rendah.
Berdasarkan riset Kementerian Komunikasi dan Informatika 2021 dan UNESCO 2022, indeks minat baca masyarakat di Indonesia disebutkan hanya mencapai 0,001 persen, atau dari 1.000 orang hanya satu orang yang gemar membaca.
Pengamat Pendidikan LIPI, Anggi Afriansyah mengatakan, minat membaca buku di Indonesia memang masih sangat terbatas karena tidak semua orang tua dan sekolah mampu menyediakan buku bacaan yang berkualitas.
"Buku masih menjadi barang mahal dan bukan pilihan utama. Sehingga, terutama bagi keluarga miskin, bukan menjadi prioritas, sebab mereka masih memiliki kebutuhan lain terutama terkait dengan makan dan minum," kata Anggi ketika dihubungi Merdeka.com.
Sayangnya, ketika buku belum menjadi prioritas utama di Indonesia, gelombang digitalisasi hadir. Informasi lebih mudah didapat melalui internet baik melalui media sosial maupun mesin pencari.
Sehingga, pilihan mencari informasi menjadi lebih banyak, kemudian perpustakaan dan toko buku semakin tidak menjadi pilihan utama. Pilihan mudah mencari informasi di internet menjadikan minat terhadap buku (yang mahal), semakin berkurang.
Selain itu, buku-buku pun mulai didigitalisasi. Namun menurutnya, di Indonesia nampaknya minat terhadap buku cetak ataupun buku digital masih terbatas. Pembaca buku digital masih kalangan kelas menengah atas yang memiliki sumber daya memadai untuk mengakses internet.
"Mereka juga dapat membeli tablet atau e-reader seperti kindle dan sebagainya untuk membaca buku elektronik. Jadi saya masih tidak percaya toko buku tutup karena maraknya digitalisasi dan aplikasi-aplikasi," imbuhnya.
Advertisement
Dia menilai, ini semata karena minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Kemungkinan lain, para pembaca membeli buku di toko buku online karena dianggap praktis dan seringkali harganya lebih murah. Jadi posisi tersebut menyebabkan para pembaca lebih memiliki banyak pilihan.
"Untuk membaca buku lewat aplikasi menurut saya sangat positif, hanya memang, saat ini masih sebatas dirasakan oleh kelas menengah perkotaan yang memiliki akses internet," jelasnya.
Aplikasi perpustakaan memang lebih mudah diunduh di gawai masing-masing. Hal tersebut menguntungkan bagi para pembaca, karena mereka bisa meminjam di manapun dan kapanpun. Tapi, perkara utama bukan media membaca, tetapi bagaimana menguatkan budaya baca, baik melalui buku cetak dan buku elektronik.
Secara struktural perlu ada kebijakan yang membuat setiap penduduk dari berbagai kelompok sosial ekonomi dapat mengakses buku berkualitas, baik cetak maupun elektronik.
"Buku-buku, menurut saya masih sangat mahal untuk dijangkau. Jadi menyediakan buku-buku berkualitas di sekolah, rumah, tempat ibadah, kantor desa, perpustakaan daerah, perpustakaan desa menjadi sangat penting. Karena hal tersebut bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa," tandasnya.
Reporter Magang: Ananda Tias Putri