Banyak Tanggungan, Anak Muda di Indonesia Enggan Cepat Menikah

Ekonom Celios, Bhima Yudhistira mengatakan fenomena waithood di Indonesia terjadi bukan hanya karena tingginya biaya hidup. Melainkan karena sebagian pekerja juga harus menanggung biaya hidup keluarganya.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Banyak Tanggungan, Anak Muda di Indonesia Enggan Cepat Menikah
generasi milenial. ©2018 istimewa

Fenomena waithood atau menunda pernikahan atau menunda memiliki anak dalam sebuah rumah tangga tak hanya terjadi di negara maju. Fenomena serupa juga mulai banyak terjadi di kota-kota besar Indonesia.

Ekonom Celios, Bhima Yudhistira mengatakan fenomena waithood di Indonesia terjadi bukan hanya karena tingginya biaya hidup. Melainkan karena sebagian pekerja juga harus menanggung biaya hidup keluarganya.

"Generasi saat ini disebut sebagai generasi sandwich yang berarti harus mencukupi kebutuhan orang tua yang masuk masa pensiun, sementara kebutuhan diri sendiri juga semakin besar," kata Bhima saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Kamis (29/12).

Bhima menuturkan masalah tingginya biaya hidup memang jadi problem dari menunda punya anak. Pekerja yang hanya mendapat upah minimum akan berhitung dengan cermat untuk memiliki anak apalagi lebih dari satu.

"Jadi antara kenaikan upah dengan kenaikan biaya hidup itu tidak berimbang. Tahun 2022, harga pangan sempat naik 10 persen termasuk kebutuhan gizi untuk ibu hamil, sementara upah minimum nya naik cuma 1 persen," kata dia.

Bila kondisi tidak banyak berubah, Bhima menilai dalam 20 tahun ke depan rasio ketergantungannya cukup tinggi. Artinya anak muda makin menanggung beban orang yang masuk usia lansia / non produktif.

"Itu ancaman serius, bisa jebol jaring pengaman sosial," kata dia.

Dalam kondisi demikian, tak jarang generasi muda berpikir ulang untuk menikah atau memiliki anak. Sehingga jika tidak pandai berhemat, mereka biasanya terpaksa menunda untuk menikah atau punya anak.

"Kalau tidak pandai berhemat, maka yang dikorbankan adalah keputusan menikah," ungkapnya.

Dewasa ini, tuntutan sosial pun berubah. Sebelumnya, kalau sudah lulus kuliah akan ditanya 'kapan menikah?'. Tapi sekarang, pertanyaannya ganti menjadi 'sudah kerja di mana?'.

Ketakutan menikah pun kini berkorelasi dengan tingginya pengangguran usia muda di Indonesia yang mencapai 16 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.

"Jadi anak muda di Indonesia itu tantangannya lebih berat, sulit cari kerja apalagi menanggung biaya berkeluarga," ungkap Bhima.

Dalam jangka panjang, fenomena ini bisa berdampak ke perekonomian sebuah negara. Tidak adanya generasi penerus bisa mengancam demografi dan produktivitas. Apalagi fenomena ini sangat berpotensi menular ke wilayah pedesaan di Indonesia.

"Kalau banyak anak muda tidak punya anak efeknya mengancam demografi dan produktivitas jangka panjang," kata dia.

Rekomendasi