Biaya Hidup Tinggi Bikin Generasi Muda di Negara Maju Tunda Pernikahan

Fenomena waithood atau menunda pernikahan atau menunda memiliki anak dalam sebuah rumah tangga banyak terjadi di negara maju. Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri mencoba membedah fenomena tersebut dari sudut pandang teori ekonomi melalui konsep permintaan atau opportunity cost.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Biaya Hidup Tinggi Bikin Generasi Muda di Negara Maju Tunda Pernikahan
generasi milenial. ©2018 istimewa

Fenomena waithood atau menunda pernikahan atau menunda memiliki anak dalam sebuah rumah tangga banyak terjadi di negara maju. Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri mencoba membedah fenomena tersebut dari sudut pandang teori ekonomi melalui konsep permintaan atau opportunity cost.

Menurut Chatib, di negara maju memiliki membutuhkan pengorbanan yang besar. Dia mencontohkan di sebuah negara maju, pasangan suami istri memiliki pekerjaan dan masing-masing memiliki pendapatan.

Jika pasangan tersebut memutuskan memiliki anak, maka salah satu dari mereka harus berhenti bekerja agar bisa merawat anak. Artinya pendapatan mereka akan berkurang karena salah satunya tidak lagi bekerja.

"Akibatnya ada pendapatan yang hilang atau foregone income," kata Chatib dalam video di akun instagramnya @chatibbasri, dikutip Kamis, (29/12).

Kondisi tersebut merupakan cerminan dari opportunity cost atau pengorbanan yang harus dilakukan jika memiliki anak. Ini juga sekaligus cerminan dari harga untuk memiliki anak. "Jika harganya relatif mahal, maka permintaan terhadap anak akan mengalami penurunan," kata dia.

Situasi sebaliknya terjadi di negara berkembang. Biasanya di negara berkembang masyarakat sulit memiliki pekerjaan. Maka dalam sebuah rumah tangga tidak jarang salah satunya tidak bekerja, baik itu suami atau istri.

"Di negara berkembang karena kesulitan mencari pekerjaan maka ada kemungkinan apakah istri atau suami tidak punya pekerjaan," kata dia.

Akibatnya, jika rumah tangga tersebut memutuskan memiliki anak, maka risiko pendapatan yang hilang pun relatif kecil. Sehingga pengorbanan punya anak relatif kecil dan harga anak juga relatif kecil.

"Pengorbanan punya anak relatif kecil sehingga harga anak juga relatif kecil. Akibatnya permintaan terhadap anak mengalami peningkatan," pungkasnya.

Rekomendasi