Pemerintah terus mendorong produksi Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) untuk menekan impor bahan baku farmasi. Pemerintah juga akan menyiapkan insentif khusus untuk menggenjot produksi obat bahan baku lokal.
"Insentif-insentifnya, misalnya salah satunya yang berkaitan dengan bagaimana kita bisa membantu industri farmasi termasuk Kalbe, melakukan penetrasi ke JKN," ujar Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, usai kunjungan kerja di PT Kalbio Global Medika, Cikarang, Rabu (11/3).
"Itu juga bukan hanya kita melakukan penetrasi untuk membuka pasar di JKN, dalam hal ini BPJS tapi juga agar agar level playing field yang adil bagi industri dalam negeri ketika dikaitkan dengan produk-produk obat lainnya," tambah Menperin Agus.
Menteri Agus menambahkan akan menyiapkan payung hukum untuk pemberdayaan industri-industri farmasi dalam negeri. Contohnya, harga jual obat produk bahan baku lokal boleh lebih mahal.
"Jadi kami memberikan suatu ruang 15 persen lebih mahal asal dia (OMAI) diproduksi di dalam negeri," imbuhnya.
Hingga saat ini, industri farmasi di dalam negeri terdiri dari 206 perusahaan. Di mana, didominasi 178 perusahaan swasta nasional, kemudian 24 perusahaan Multi National Company (MNC), dan empat perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
"Untuk industri farmasi, kita juga sedang mengkaji untuk menggunakan yang namanya proces base, jadi proces base bukan cost base. Ini juga salah satu upaya yang kemungkinan bisa membantu industri farmasi kita berkembang lebih baik lagi ke depannya," pungkasnya.
Advertisement
Industri Farmasi Manfaatkan Bahan Baku Lokal Tekan Dampak Rupiah Melemah
Industri farmasi dalam negeri menyiapkan strategi guna menghadapi pelemahan nilai tukar Rupiah. Salah satunya dengan mulai meningkatkan penggunaan bahan baku lokal yang berasal dari alam.
Wakil Ketua Umum GP Farmasi, Ferry A Soetikno, mengatakan saat ini sebagian bahan baku industri farmasi masih diimpor dari negara lain. Hal tersebut yang membuat industri rentan terhadap gejolak nilai tukar rupiah.
"Realitanya bahan baku obat masih banyak diimpor. Kita coba untuk tingkatkan efisiensi. Tidak serta merta menaikkan harga," ujar dia di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Selasa (10/7).
Namun demikian, lanjut dia, pelemahan nilai tukar ini tidak sampai mengganggu pertumbuhan industri. Hal ini berkat adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sehingga mendorong permintaan produk obat-obatan.
"Program besar kita sukseskan JKN. Itu bagus perlu diapresiasi. Kita hasilkan banyak sekali produk untuk sekian ratus juta, 200 juta BPJS Kesehatan," kata dia.
Selain itu, kata Ferry, para produsen obat kini mulai menggunakan bahan baku lokal. Hal tersebut diharapkan dapat menekan ketergantungan impor bahan baku di tengah gejolak nilai tukar.
"Sudah banyak juga yang sekarang pakai bahan baku Indonesia. Kemudian Pak Menteri dorong lebih penggunaan bahan baku indonesia, dari herbal. Herbal ini bukan jamu, tapi yang nilai tambah. Bahan herbal yang jadi obat. Obat dengan bahan herbal," jelas dia.
Reporter: Pipit Ika Ramadhani
Sumber: Liputan6