Mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menjelaskan beberapa strategi mengurangi impor minyak dan digantikan dengan supply domestik. Selama ini Indonesia diketahui masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri.
Upaya pertama yang dapat dilakukan di hulu migas bisa melalui enhanced oil recovery (EOR) untuk jangka pendek. Kemudian untuk jangka panjangnya, dapat dilakukan eksplorasi, sehingga mampu untuk mensupply kilang.
"Strategi selanjutnya adalah dengan kendaraan listrik, energi listrik tidak pernah impor, karena disupply oleh domestik. Kalau andalkan migas, kita butuh impor crude dan BBM," jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Badan Anggaran DPR RI, Senin (17/02).
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia IATMI, Hadi Ismoyo menyarankan lima kunci untuk meningkatkan produksi minyak.
Pertama melalui eksplorasi, Enhanced Oil Recovery (EOR), well work program, surface optimization, Plan of Development (POD) speed up for discoveries undevelopedment dan marginal field.
Dengan lima kunci tersebut, ia optimis target SKK Migas untuk 1 juta barel per hari bisa tercapai di tahun 2030. Di luar lima kunci tersebut, ia menyarankan konversi gas ke minyak. "Kita penghasil gas daripada oil, 100 TCF, salah satunya Natuna," jelasnya.
Advertisement
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2018 mengalami defisit sebesar USD 8,57 miliar pada Desember 2018. Dengan demikian, defisit itu menjadi yang terbesar sejak tahun 1975 lalu.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Daerah Penghasil Migas, Andang Bachtiar mengatakan, defisit neraca perdagangan Indonesia kali ini disebabkan oleh tingginya impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan BBM dalam negeri dan semakin turunnya produksi minyak mentah.
"Nilai impor minyak indonesia meningkat dari USD 24,3 milyar pada 2017 menjadi 29,8 milyar pada 2018. Meningkatnya impor minyak mentah dan BBM menjadi penyebab utama defisit neraca perdagangan yang terburuk sepanjang berdirinya republik," kata Andang dalam diskusi publik Outlook Energi dan Pertambangan Indonesia 2019, di Kawasan Cikini, Jakarta, Kamis (17/1).
Andang menyebut, pemerintah perlu dengan serius mengatasi defisit neraca perdagangan, terutama menekan laju impor. Sebab dia menilai, impor tahun 2025 diproyeksikan dapat meningkat tiga kali lipat dibandingkan saat ini.
"Jadi ini pekerjaan rumah besar karena impor minyak kita 2025 dalam rencana energi nasional tiga kali lipat dari yang sekarang impor kita," imbuhnya.
Dia berharap dengan berbagai kebijakan pemerintah saat ini, termasuk implementasi penerapan biodisel atau B20 dapat menekan impor. "Tapi harus terus menerus kita kawal kita teriakkan ini bagian yang mencederai dari makro ekonomi kita," pungkasnya.
Sumber: Liputan6
Reporter: Pipit Ramadhani