Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meyakinkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 4 kota akan selesai tahun ini. Keempat PLTSa itu berada di Surabaya, Jakarta, Bekasi, dan Solo. Total nilai investasi ke-4 pembangkit itu sekitar Rp8,8 triliun.
"Pembangunan PLTSa di kota-kota tersebut, termasuk Bali, dimonitor langsung oleh Presiden Joko Widodo," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, seperti dikutip dari Setkab di Jakarta, kemarin.
Kementerian ESDM, terhitung sejak 2019 hingga 2022 mendatang, berkomitmen untuk membangun 12 PLTSa. Ke-12 pembangkit tersebut akan mampu menghasilkan listrik hingga 234 Megawatt (MW) dari sekitar 16.000 ton sampah per hari.
Surabaya (10 MW) akan menjadi kota pertama yang mengoperasikan pembangkit listrik berbasis biomassa tersebut dari volume sampah sebesar 1.500 ton/hari dengan nilai investasi sekitar USD 49,86 juta.
Lokasi PLTSa kedua berada di Bekasi. PLTSa tersebut punya investasi USD 120 juta dengan daya 9 MW. Selanjutnya, ada tiga pembangkit sampah yang berlokasi di Surakarta (10 MW), Palembang (20 MW) dan Denpasar (20 MW). Total investasi untuk menghasilkan setrum dari tiga lokasi yang mengelola sampah sebanyak 2.800 ton/hari sebesar USD 297,82 juta.
Sisanya, DKI Jakarta sebesar 38 MW dengan investasi USD 345,8 juta. Bandung 29 MW dengan nilai USD 245 juta. Makassar, Manado dan Tangerang Selatan dengan masing-masing kapasitas sebesar 20 MW dan investasi yang sama, yaitu USD 120 juta.
Menurut Agung, kehadiran PLTSa turut membantu menciptakan lingkungan hidup yang berkelanjutan sesuai Nawacita Pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla
"Semangat dari pembangunan pembangkit listrik ini tidak hanya terletak pada urusan penyediaan listrik semata. Pemerintah bertekad membenahi manajemen sampah demi menciptakan lingkungan yang sehat," tegas Agung.