Bank Indonesia (BI) menyatakan pelemahan Rupiah yang terjadi dalam beberapa hari lebih disebabkan oleh faktor internal. Salah satunya yaitu meningkatnya kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) di dalam negeri.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada kuartal II kebutuhan akan Dolar memang cenderung mengalami peningkatan. Sebab, pada kuartal ini, perusahaan melakukan pembagian deviden serta membayar utang luar negeri yang membutuhkan Dolar dalam jumlah besar.
"April, Mei, Juni ini memang memasuki pembagian dividen multinasional company, pembayaran bunga dan sebagainya," ujar dia di Kantor BI, Jakarta, Kamis (2/5).
Namun, lanjut dia, faktor eksternal juga turut mempengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, yaitu adanya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. "Sentimen risk off memicu pelemahan indeks saham global diikuti penguatan tajam nilai tukar USD (DXY) naik ke level tertinggi sejak Mei 2017,” ungkap dia.
Meski demikian, Onny memastikan BI tetap akan memantau pergerakan nilai tukar ini. Bank Indonesia juga tetap berada di pasar untuk menjaga rupiah tetap stabil. "Tapi iya kami tetap berada di pasar," tandas dia.
Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6.com