Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pernyataan International Moneter Fund (IMF) yang meminta negara-negara menurunkan rasio utang tidak relevan terhadap Indonesia. Meski, penurunan utang ini bertujuan untuk mengantisipasi turunnya pertumbuhan ekonomi global di 2019.
Dia mengungkapkan, masing-masing negara memiliki rasio utang terhadap PDB yang berbeda-beda. Bahkan ada yang rasio utangnya sudah sebesar 100 persen.
"Kalau bicara IMF ini, kan ada negara advance country seperti bahkan di Eropa yang debt to GDP ratio itu sudah di atas 60 persen, ada yang 80 persen, bahkan 100 persen. Negara-negara seperti itu mereka pasti melakukan konsolidasi fiskal," ujar dia di Jakarta, Selasa (22/1).
Sri Mulyani menjelaskan, memang ada 40 negara berpendapatan rendah yang memiliki rasio utang hingga 100 persen. Namun Indonesia tidak masuk dalam daftar tersebut.
"Di low income country waktu kemarin di annual meeting jadi disampaikan ada lebih dari 40 negara low income country yang sekarang utangnya tidak sustainable, di atas 100 persen. Indonesia, kalau anda bandingkan, utang kita terhadap GDP masih di 30 persen. Untuk standar internasional itu rendah sekali," kata dia.
Dari sisi defisit anggaran, lanjut Sri Mulyani, Indonesia juga terhitung masih kecil, yaitu 1,76 persen. Oleh sebab itu, pernyataan IMF terkait pengurangan utang ini tidak relevan untuk Indonesia.
"Untuk negara-negara itulah (rasio utang yang tinggi) statement IMF menjadi berlaku. Negara seperti ini harus menjaga keseimbangan fiskalnya dengan mengurangi defisit dan oki mengurangi utangnya.Jadi untuk negara-negara seperti itu tntangannya adalah bagaimana menciptakan growt cukup tinggi, tapi defisit lebih kecil. Nah Indonesia, sekarang growt-nya sudah di atas 5 persen, defisitnya di bawah 2 persen. Jadi tidak relevan buat Indonesia statement itu," tandas dia.
Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6.com