Pesawat Lion Air jenis Boeing 737 Max 8 dengan nomor registrasi PQ-LQP mengalami kecelakaan saat melayani rute Jakarta - Pangkal Pinang dengan nomor penerbangan JT 610 pada Senin (29/10) lalu. Padahal, pesawat tersebut merupakan jenis terbaru yang jumlahnya masih terbatas. Saat ini, baru sekitar 200 armada jenis tersebut yang mengudara di seluruh dunia.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut bahwa penyebab kecelakaan yang menimpa Lion Air PQ-LQP harus segera dicari tahu agar hal serupa tidak menimpa 200 pesawat lainnya di dunia.
Oleh sebab itu, dalam proses investigasi tersebut Indonesia melibatkan pihak Boeing selaku pembuat pesawat serta The National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika.
"Tugas mereka adalah membantu indonesia untuk melakukan investigasi, kita akan bersama - sama dengan mereka untuk melihat yang sudah kita temukan, kemungkinan ada hal - hal yang penting untuk kita investigasi lebih lanjut segala macam, nanti kita akan evaluasi secara bersama," kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono, di kantornya, Senin (5/11).
Informasi sementara yang didapatkan dari data blakcbox Flight Data Recorder (FDR) pesawat sudah mengalami kerusakan dalam empat penerbangan terakhirnya. Kerusakan diketahui terjadi pada penunjuk kecepatan atau Air Speed Indicator.
"KNKT minta pasa NTSB dan Boeing untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kecelakaan serupa terulang terutama pada pesawat Boeing 737 Max 8 yang saat ini ada sekitar 200 pesawat yang terbang di seluruh dunia. KNKT sedang mengumpulkan data terkait perbaikan yang dilakukan selama terjadi kerusakan ini," ujarnya.
Saat ini, penghimpunan informasi dilakukan secara mendetail. Bahkan akan dilakukan interview atau wawancara pada pilot-pilot yang menerbangkan 4 perjalanan terakhir pesawat tersebut.
"Interview dari penerbang - penerbang yang menerbangkan sebelumnya maupun data-data perbaikan yang telah dilakukan oleh teknisi - teknisi dari maskapai tersebut. Jadi saya ulang lagi bahwa KNKT sedang meneliti bersama Boeing bersama NTSB untuk lebih mendetail kan tentang kerusakan pada penunjuk kecepatan atau air speed indicator pada empat penerbangan terakhir," tegasnya.
Dia menyebutkan hal tersebut sangat penting dilakukan sebab menyangkut aspek keselamatan 200 pesawat lainnya. "Karena sangat berhubungan dengan masalah keselamatan maka kita bersama Boeing bersama NTSB sedang merancang apa yang perlu dilakukan, perbaikan ataupun pemeriksaan," ujarnya.
Dalam kesempatan serupa, Kepala Sub Komite Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengungkapkan tim sudah berhasil membuat atau mengumpulkan parameter-parameter yang dibutuhkan untuk penelitian.
Nantinya, tim akan mereview lebih lanjut apa yang menjadi penyebab kerusakan indikator kecepatan tersebut. Dan bagaimana perbaikan yang sudah dilakukan serta bagaimana pilot menerbangkan selama pesawat mengalami kerusakan. "Kami juga melihat bahwa ini adalah salah satu isu yang menjadi penting terutama mengingat lebih dari 200 737 max sejenis yang terbang di seluruh dunia," ujarnya.
Diharapkan hasil investigasi bisa menjadi pencegah kecelakaan serupa terjadi. "Bagaimana mencegah kecelakaan serupa apabila mengalami kerusakan yang sama. Adapun formulasi dari tindakan perbaikannya KNKT, NTSB dan Boeing sekarang sedang melakukan diskusi untuk melihat lebih jauh datanya seperti apa dan apa yang perlu untuk dilakukan," tutupnya.