Fakta rute Jakarta-London milik Garuda Indonesia, diagungkan lalu diminta ditutup

Garuda Indonesia resmi mengoperasikan penerbangan langsung atau nonstop Jakarta-London pada 31 Oktober 2017. Sayangnya, rute ini tidak menghasilkan untung sehingga diminta ditutup oleh Kementerian BUMN.

Siti Nur Azzura
Oleh Siti Nur Azzura - Reporter
Fakta rute Jakarta-London milik Garuda Indonesia, diagungkan lalu diminta ditutup
Garuda Indonesia. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Garuda Indonesia resmi mengoperasikan penerbangan langsung atau nonstop Jakarta-London pada 31 Oktober 2017. Peresmian penerbangan nonstop Jakarta-London tersebut ditandai dengan pelepasan penerbangan GA 086 Jakarta-London di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansury mengatakan pengoperasian layanan penerbangan nonstop Jakarta-London tersebut sejalan dengan program restrukturisasi jaringan penerbangan, sekaligus sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan layanan kepada para pengguna jasa.

Penerbangan nonstop tersebut merupakan bagian dari upaya Garuda Indonesia untuk menghadirkan konektivitas tanpa batas (seamless connectivity) kepada para pengguna jasa ke Inggris Raya melalui layanan penerbangan nonstop tercepat antara Jakarta dan London dengan durasi penerbangan di bawah 15 jam.

"Dengan dioperasikan layanan ini, maka Garuda Indonesia akan menjadi satu-satunya maskapai yang memiliki layanan penerbangan nonstop tercepat, nyaman, dan efisien dari Indonesia ke UK dan Eropa. Operasional penerbangan nonstop ini juga merupakan upaya kami untuk mengoptimalisasikan jaringan penerbangan sesuai program restrukturisasi rute yang tengah dilaksanakan perusahaan," ujar Pahala.

Vice President Corporate Communication Garuda Indo­nesia Ikhsan Rosan memastikan, dengan penerbangan langsung Jakarta-London akan membuat Garuda lebih kompetitif di penerbangan Internasional.

Padahal, sebelumnya Garuda pernah membuka rute tersebut via Singapura, namun sepi penumpang. Selain itu, berdasar­kan penilaian Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I-2017 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), rute internasional ini dinilai merugikan.

Beberapa bulan berlalu, lalu bagaimana evaluasi Kementerian BUMN? Klik selanjutnya.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo meminta Garuda Indonesia untuk mengevaluasi rute Jakarta-London yang digarap oleh maskapai tersebut.

Sesuai amanat Menteri BUMN Rini Soemarno, selama ini rute tersebut dinilai kurang menguntungkan bagi Garuda. Sehingga, jika tidak menguntungkan, maka lebih baik rute tersebut ditutup.

"Bu Menteri minta untuk ditinjau yang ke London. Itu bukanya April tahun lalu, sudah lebih dari setahun. Dari pada merugi di luar, lebih baik di dalam," ujar dia dalam acara peringatan ulang tahun Taspen di Jakarta, Minggu (22/4).

Dia menjelaskan, pasar penerbangan untuk rute Jakarta-London yang digarap Garuda selama ini hanya sekitar 35 ribu penumpang per tahun. Padahal, untuk rute sejenis seperti London-Perth potensi pasarnya 350 ribu penumpang per tahun.

"Tadinya kita maunya seperti rute Kanguru, itu rute dari London ke Australia di mana tiap tahun ada 350 ribu. Qantas Juli nanti akan terbang direct dari London ke Perth ke Sidney. Jadi dia bisa direct. Itu kan akan mempengaruhi kesempatan kita. Tahun lalu kita penumpang dari UK (London) ke Jakarta 35 ribu, itu cuma 10 persen," jelas dia.

Kementerian BUMN pun memberikan saran kepada Garuda Indonesia. Klik selanjutnya.

Gatot menyarankan, dari pada mempertahankan rute internasional yang tidak memberikan keuntungan, lebih bagi Garuda menggarap rute-rute di dalam negeri. Hal ini juga akan memberikan dampak bagi perekonomian di daerah.

"Waktu buka Jakarta-London, Bu Menteri minta dari pada kita merugi, dari pada kita mensupport di luar negeri tapi mensubsidi dari dalam negeri, lebih baik fokus di dalam negeri. Lebih banyak rute-rute yang bagus," sarannya.

Selain itu, Garuda Indonesia juga diminta fokus untuk menggarap penerbangan haji dan umrah. Menurutnya, pasar untuk penerbangan haji dan umroh di Indonesia mencapai 1,2 juta penumpang. Namun sayangnya selama ini penerbangan tersebut didominasi maskapai lain.

"Rute-rute yang rugi dipertimbangkan untuk ditutup. Kemudian fokus kepada umrah dan haji, karena itu market paling besar. Bagaimana skema pembiayaan dll itu yang perlu dilihat," jelas Gatot.

Untuk itu, Kementerian BUMN terus memantau kinerja Garuda setiap dua pekan, guna melihat perkembangan bisnis maskapai tersebut. Diharapkan, Garuda Indonesia tak lagi mengalami kerugian pada tahun ini, mengingat maskapai pelat merah tersebut mengalami kerugian sebesar Rp 2,88 triliun pada 2017 lalu.

"Kita harapkan tidak rugi (tahun ini). Kita memantau tiap bulan bahkan tiap dua minggu, kita pantau kinerja dan sistem yang ada di dalamnya. Supaya mereka bisa fokus pada rute yang tidak rugi," tandas dia.

Rekomendasi