Pada hari Jumat (18/8), Merdeka.com berkesempatan berkunjung ke Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang pengelolaannya dilakukan oleh Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL). Lapangan Banyu Urip bisa dicapai sekitar 6 sampai 7 jam perjalanan darat dari Bandara Juanda, Surabaya.Akses masuk ke tempat tersebut terbilang cukup rumit karena sistem keamananannya sangat ketat dan berlapis. Selain itu, daerah tersebut merupakan zona vital nasional sehingga tidak sembarang orang bebas keluar masuk tanpa prosedur dan pengawasan.Kami diajak berkeliling di lahan seluas 919,19 Km persegi. Namun, yang dilalui hanya di zona aman (green zone) sepanjang 13 Km.Saat itu, kami hanya bisa melihat dari dalam mobil, tidak diperkenankan keluar karena tidak memakai alat-alat prosedur keselamatan yang lengkap dan sesuai standar. Akan tetapi, di beberapa titik kita akan diturunkan dan bisa mengambil foto pemandangan dan bangunan yang berada di lokasi tersebut.Sepanjang perjalanan, setiap bis yang disediakan oleh EMCL dilengkapi oleh seorang pemandu yang menjelaskan nama dan fungsi alat serta bangunan yang dilewati pengunjung.Pagar pembatas yang mengelilingi Blok Cepu nampak tidak simetris. Di beberapa tempat terlihat banyak pagar yang berkelok-kelok. Pemandu menjelaskan, hal tersebut karena pada saat pembebasan lahan ada beberapa warga yang tidak bersedia menjual lahan mereka. Akhirnya, pagar dibuat mengikuti bentuk lahan yang berhasil didapat dari warga. "Saat pembebasan lahan ada yang tidak bisa, bahkan ada yang minta harga Rp 1 triliun," ujar sang pemandu.
Tambang minyak Lapangan Banyu Urip Cepu ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini RahayuFasilitas disana terbilang cukup lengkap, mulai dari pusat kesehatan, tempat ibadah hingga pusat olahraga untuk para karyawan di tempat tersebut.Vice President Publicly and Government affair ExxonMobil Indonesia, Erwin Maryoto, mengatakan bahwa Blok Cepu memproduksi minyak sebanyak 200.000 barel per hari atau sekitar 25 persen dari produksi nasional secara keseluruhan. "99 persen pegawai kami juga lokal orang Indonesia," kata Erwin, di lokasi.Erwin juga menjelaskan sistem kerja mereka menerapkan efisiensi. Mulai dari tenaga listrik yang merupakan hasil produksi sendiri, hingga hasil pengolahan yang tidak terbuang sama sekali."Kami punya power gas turbin, gasnya kami produksi, ada 6 unit, masing-masing 16 mega watt. Dari 6 unit, yang running cuma 4 unit, dua unit lainnya untuk back up (cadangan).""Minyak dari sumur nanti didinginkan, ada alat semacam kipas, setelah itu minyak dibawa ke sparator untuk dipisahkan minyak dan airnya. Setelah itu masuk ke pemurnian untuk dibersihkan dari kandungan racun. Seperti sulfur yang telah dipisah itu juga di konsumsi oleh pabrik kosmetik, bisa buat sabun dan lain-lain. Minyak yang sudah bersih masuk ke tangki penampungan. Semua yang diolah disini tidak ada yang dibuang, semuanya bisa dimanfaatkan," pungkasnya.