Menengok kebijakan Kemendag manjakan pedagang tapi 'bunuh' petani

Sekjen Andalan Petani tebu Rakyat indonesia (APTRI), M. Nur Khabsyin mengatakan, penetapan HET gula oleh Kemendag membuat harga lelang gula murah dan merugkan petani. Apalagi rendemen saat ini juga masih rendah hanya 6 persen saja.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Menengok kebijakan Kemendag manjakan pedagang tapi 'bunuh' petani
Gula. ©2012 Merdeka.com

Kebijakan Kementerian Perdagangan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) pada sejumlah bahan pokok menuai pujian karena berdampak pada pergerakan angka inflasi yang makin terkendali. Bahkan, Badan Pusat Statistik mengumumkan deflasi 0,02 persen pada Maret didorong penurunan harga pangan.

Pengamat Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB) Mohammad Firdaus mendukung langkah pemerintah menetapkan HET sejumlah bahan kebutuhan pokok, yaitu gula pasir seharga Rp 12.500 per kilogram (kg), minyak goreng kemasan sederhana Rp 11.000 per liter, dan daging beku Rp 80.000 per kg.

Kebijakan HET tersebut dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang diujicoba mulai 10 April setelah melalui proses kesepakatan dengan produsen, importir, distributor, dan ritel modern.

"HET ini kan pedoman bagi pemerintah untuk pasar. Kalau untuk gula dan minyak goreng, saya yakin pasti aman, tapi kalau untuk daging, ini yang harus benar-benar diperhatikan," kata Firdaus di Jakarta, Senin (15/5).

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita sendiri jgua membanggakan kebijakan penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET). Mendag mengapresiasi kerja keras tim Kemendag yang berhasil merayu para produsen, distributor, jaringan pedagang pasar tradisional serta pengusaha ritel modern.

Mendag-pun seolah memaksa ritel untuk menjual tiga bahan pokok tersebut sesuai dengan harga yang ditetapkan.

"Retail yang belum itu adalah retail yang lokal, kita akan lakukan dialog tanggal 4, mereka belum ada suplai, kita sudah minta kepada distributor dan Aprindo, untuk menjembatani agar suplai mereka bisa lancar," katanya di Bekasi, Jumat (28/4).

Namun di balik kebijakan ini, petani menjerit karena hasil panen mereka dibeli murah.

Sekjen Andalan Petani tebu Rakyat indonesia (APTRI), M. Nur Khabsyin mengatakan, penetapan HET gula oleh Kemendag membuat harga lelang gula murah dan merugkan petani. Apalagi rendemen saat ini juga masih rendah hanya 6 persen saja.

Menurutnya, sebagian pabrik gula di Jawa sudah mulai giling tebu. Bahkan di Sumatera sudah mulai giling pada bulan April. Untuk lelang gula tani perdana pada 9 mei 2017 di pabrik gula Trangkil Pati Jateng, hanya ditawar Rp 10.020/kg untuk gula tani PG Trangkil dan Rp 9.500/kg utk gula tani PG Pakis Baru Pati.

"Karena tawarannya rendah maka lelang dibatalkan alias tidak dilepas. Rendahnya harga lelang gula ini jelas sangat merugikan petani, apalagi rendemen saat ini juga masih rendah hanya 6 persen," katanya kepada merdeka.com di Jakarta, Senin (15/5).

Dia menegaskan, rendahnya harga lelang gula tani diakibatkan karena adanya HET (Harga Eceran Tertinggi) gula yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 12.500/kg jelas sangat berpengaruh. Lebih lebih pemerintah telah menetapkan pembelian gula dari distributor kepada produsen (pabrik gula) dipatok Rp 10.900/kg. Itu artinya pedagang yang ikut lelang gula akan menawar di bawah angka Rp 10.900. Sebab gula dari pedagang akan dijual kepada distributor dengan angka Rp 10.900.

"Ini kebijakan Kemendag memanjakan pedagang tapi membunuh petani," tegasnya.

Selain itu, rendahnya harga gula petani juga disebabkan adanya isu gula tani akan dikenakan PPN 10 persen yang kemudian menjadi momok bagi pedagang. Mereka takut membeli gula tani karena khawatir di belakang hari bakal ditarik PPN. "Sehingga pedagang menawar gula di bawah harga pembelian yang ditetapkan oleh Mendag karena mereka akan memperhitungkan dengan PPN. Mereka akan menawar 10 persen di bawah angka Rp 10.900."

Rendahnya harga gula petani juga terjadi karena belum ditetapkannya HPP (harga pokok pembelian) gula tani menyebakan pedagang ragu dalam menawar karena tidak ada patokan yang jelas.

"Untuk itu kami mendesak kepada Menteri Perdagangan untuk segera menetapkan HPP gula tani. Usulan Aptri adalah Rp 11.767/kg dengan asumsi rendemen 7,5 persen untuk tanaman pertama (plant cane) dan 7 persen untuk tanaman ratoon (kedua dan seterusnya).

Rekomendasi