Bagi sebagian orang, libur Lebaran menjadi lahan untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Salah satunya adalah Made Arya, pria asal Jimbaran, Badung, Bali yang sehari-hari bekerja sebagai sopir travel bandara.
Sejak H-5 sampai H+7 libur Lebaran pekan lalu, pihaknya meraup omzet sebesar Rp 3 - 4 juta per hari. Pendapatan tersebut, meningkat 3 kali lipat dibanding hari biasanya.
"Biasanya sehari saya paling sepi omset kotor Rp 1,5 juta. Kalau bersihnya paling sepi Rp 500 ribu. Kalau ramai kayak kemarin bersihnya bisa Rp 1,5 juta - Rp 2 juta per hari," kata Made kepada merdeka.com di Kuta, Badung, Bali, Minggu (17/7).
Jumlah tersebut dinilai masih bisa meningkat lebih banyak lagi. Sebab, pihaknya kerap mendapat pesanan lanjutan seusai mengantar penumpang dari Bandara.
"Lumayam tambahannya Rp 600.000 sehari. Biasanya kalau yang saya antar butuh travel, dia malas pesan yang lain, saya yang di pesan sama mereka," tutur pria berusia 47 tahun tersebut.
Sayangnya, omzet tersebut tidak dapat secara terus menerus. Alasannya, saat Lebaran tiba hingga H+3, jalanan sepanjang bandara Ngurah Rai menuju Denpasar, Kuta, maupun Jimbaran macet parah.
"Kadang kita kehilangan sebagian penghasilan. Macet parah, kita ketahan di jalan. Buat balik lagi ke bandara itu lama, jadi harusnya dari pagi sampai siang sudah dapat Rp 1,5 juta jadinya dapet Rp 1 juta saja," pungkasnya.