Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan perusahaan Farmasi asal China berminat untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini seiring ditetapkannya industri farmasi terbuka 100 persen untuk asing.Menurutnya, dengan adanya regulasi ini, terdapat empat perusahaan di sektor farmasi yang hadir dalam pertemuan di Shanghai, China. Di mana masing-masing perusahaan tersebut menanyakan mengenai regulasi terbaru terutama terkait dengan kepemilikan asing serta beberapa peraturan penunjangnya."Timingnya tepat karena setelah revisi DNI. Apalagi saat ini, pemerintah sedang berupaya untuk meningkatkan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan di dalam negeri untuk mendorong industri farmasi dalam negeri," kata Franky dalam keterangan resminya, Minggu (19/6).Dia menambahkan, investasi ini mampu mendukung langkah pemerintah dalam menyusun peta jalan (road map) dan rencana aksi (action plan) pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan. Bukan hanya itu, pemerintah juga tengah meningkatkan produksi vaksin, produk bioteknologi, produk alam, serta industri bahan baku obat."Juga meningkatkan supply alat kesehatan produk dalam negeri seperti furniture rumah sakit, implant ortopedi, elektromedical devices, diagnostics instruments, diagnostics reagents dan lain sebagainya," imbuhnya.Selain itu, Franky menjelaskan, pemerintah memiliki program jaminan kesehatan nasional yang berpotensi untuk meningkatkan kebutuhan akan obat dan alat kesehatan. Namun sebanyak 96 persen bahan baku yang digunakan industri farmasi diperoleh melalui impor, sehingga pemerintah berupaya untuk mendorong industri bahan baku obat dalam negeri dengan membukanya 100 persen untuk asing."Bapak Presiden Joko Widodo mengharapkan pada tahun 2019, pemenuhan kebutuhan bahan baku obat dalam negeri bisa mencapai 50 persen," pungkasnya.
BKPM ungkap ketertarikan China garap industri farmasi Indonesia
Hal ini seiring ditetapkannya industri farmasi terbuka 100 persen untuk asing.
Rekomendasi