Upaya negara hadirkan listrik murah, dari impor sampai gandeng India

Keputusan pemerintah mencabut subsidi diiringi upaya mencari solusi agar tarif listrik tetap murah.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
Upaya negara hadirkan listrik murah, dari impor sampai gandeng India
Ilustrasi PLN. ©2014 Merdeka.com

Listrik saat ini telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Maka dari itu, kebutuhan akan listrik murah menjadi harapan besar masyarakat di tengah terus membengkaknya biaya hidup saat ini.Sejumlah langkah telah ditempuh oleh pemerintah untuk menghadirkan listrik murah. Salah satunya ialah dengan mensubsidi tarif listrik. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah mencatat pemberian subsidi ini tidak efektif. Sebab, banyak masyarakat mampu justru masih menerima subsidi listrik.Maka dari itu, pemerintah memutuskan bakal mencabut subsidi listrik 23 juta rumah tangga pada tahun depan. Manajer Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto mengatakan rumah tangga pengguna 450 VA dan 900 VA mencapai 47,7 juta rumah tangga. Dari jumlah itu, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyebut hanya 24,7 juta rumah tangga yang layak mendapatkan subsidi listrik."Sebanyak 23 juta subsidinya akan dicabut dan diimbau untuk beralih ke 1.300 VA," ujar dia.Keputusan ini tak lantas membuat pemerintah berhenti berupaya menghadirkan listrik murah bagi masyarakat. Setidaknya merdeka.com mencatat sejumlah langkah pemerintah untuk menghadirkan listrik murah bagi masyarakat.

Pertama, pemerintah bakal mengimpor listrik untuk mendapatkan harga murah. Hal ini karena langkah impor tersebut dinilai dapat menghemat pengeluaran lantaran harga listrik dari Malaysia jauh lebih murah dibandingkan dengan yang dihasilkan pembangkit bertenaga Bahan Bakar Minyak (BBM)."Ada tawaran dari Malaysia yaitu listrik sekitar Rp 900 per kWh, dia punya PLTA. Kalau kita pakai solar yang juga impor, ini kan per kWh harganya hampir Rp 3.500," ujar Dirjen Kelistrikan Kementerian ESDM Jarman di Jakarta.Aksi impor ini ditunjukkan untuk memberikan listrik kepada penduduk di wilayah perbatasan yakni Kalimantan Barat.Kedua, Indonesia menggandeng India untuk mengembangkan listrik murah berbahan baku energi baru terbarukan. Energi baru terbarukan yang masih jarang digunakan membuat biaya produksi menjadi mahal.Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi, Rida Mulyana, mengatakan pemerintah Indonesia tertarik untuk mendapatkan teknologi pembangkit listrik tenaga angin India. Kelebihan India, menurutnya, ialah harga listrik dari pembangkit angin tersebut lebih murah dibandingkan negara lain."Yang ingin saya pelajari dari mereka, kok bisa mereka jual listrik angin dengan tarif sangat rendah, kalau ditempat lain masih (USD) 20 sen per kwh, mereka sudah jual dengan harga belasan," ujarnya dikutip dari laman situs ESDM, Jakarta.Kerja sama dengan India, lanjut Rida, nantinya akan meliputi enam hal yaitu, pertukaran informasi dan teknologi pengembangan proyek dan riset bersama, transfer teknologi, promosi dan investasi dan mendorong dialog masalah kebijakan serta terakhir pengembangan sumber daya manusia (capacity building).

Rekomendasi