Biaya logistik paling mahal sedunia, RI butuh inovasi infrastruktur

"Penurunan biaya logistik dapat dicapai melalui solusi logistik terintegrasi."

Fikri Faqih
Oleh Fikri Faqih - Reporter
Biaya logistik paling mahal sedunia, RI butuh inovasi infrastruktur
jalur pantura rusak. ©2014 merdeka.com/parwito

Pemerintahan Jokowi-JK diminta untuk lebih serius meningkatkan kualitas infrastruktur, mulai dari jalan raya hingga pelabuhan. Perbaikan infrastruktur sangat dibutuhkan untuk menekan biaya logistik yang saat ini mencapai 24 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) senilai Rp 1.820 triliun per tahun.

Biaya logistik ini terdiri atas biaya penyimpanan sebesar Rp 546 triliun, biaya transportasi Rp 1.092 triliun, dan biaya administrasi Rp 182 triliun.

"Ketersediaan infrastruktur yang baik jika dipadukan inovasi logistik terintegrasi, saya yakin biaya logistik dapat ditekan. Kami terus berinovasi untuk menciptakan biaya logistik yang murah. Ini penting agar dapat mendorong aktivitas perdagangan di Indonesia," kata Chief Executive Officer (CEO) PT Kamadjaja Logistics Ivan Kamadjaja di Trade Expo Indonesia (TEI) 2015 di JiExpo Kemayoran, Rabu (21/10).

Dia mengatakan, penurunan biaya logistik sangat berpengaruh dengan ketersediaan infrastruktur yang berkualitas dan terkelola dengan baik. Selain itu penurunan biaya logistik dapat melalui penghapusan biaya administrasi.

"Terus terang, biaya logistik di Indonesia adalah yang paling tinggi di dunia. Di negara tetangga Malaysia, biaya logistiknya hanya 15 persen. Sedangkan Amerika Serikat dan Jepang hanya berkisar 10 persen," ujarnya.

Ivan mengungkapkan, sebagai pelaku usaha di sektor logistik, perusahaan yang dipimpinnya terus berinovasi untuk menciptakan sistem layanan terpadu berbiaya murah seperti K-Log Park, yang tersedia di Cibitung, Jawa Barat. Disebutkan, K-Log Park yang juga tersebar di Surabaya (Jawa Timur) dan Medan (Sumatera Utara) menyediakan end-to-end solution untuk kebutuhan supply chain management.

"Penurunan biaya logistik dapat dicapai melalui solusi logistik terintegrasi. Sistem ini dapat meningkatkan produktivitas perusahaan antara 50-90 persen. Jika ada efisiensi, tentu volume perdagangan meningkat dan makin kompetitif," tutupnya.

Seperti diketahui, Pameran TEI 2015 yang dibuka Presiden Joko Widodo, dihadiri Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, Menteri Perindustrian Saleh Husin, dan kalangan perwakilan negara-negara sahabat. Pameran Dagang yang digelar Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memamerkan aneka produk ekspor Indonesia mulai dari industri, pertambangan, pertanian hingga kerajinan tangan.

Rekomendasi