Nadiem Makarim, bos GO-JEK lulusan Harvard tak betah kerja kantoran

Nadiem Makarim: Saya ingin mengontrol takdir saya sendiri.

Saugy Riyandi
Oleh Saugy Riyandi - Reporter
Nadiem Makarim, bos GO-JEK lulusan Harvard tak betah kerja kantoran
CEO Gojek Nadiem Makarim. ©2015 Merdeka.com

Nama Nadiem Makarim dikenal publik seiring makin tersohornya GO-JEK di kalangan masyarakat. Nadiem datang bukan dari latar belakang pengusaha.

Dia menceritakan, sebelum membangun bisnis berbasis aplikasi, dia tak lebih dari seorang pegawai di salah satu perusahaan aplikasi belanja online. Dengan mobilitas tinggi, pria lulusan Harvard ini lebih memilih ojek ketimbang mobil pribadi untuk menjalani kegiatan sehari-hari.

"Dulu saya ini hampir 5 kali sehari naik ojek. Karena mobilitas tinggi, harus meeting di mana pun jadi panggil ojek. Saya dulu bisa dibilang cinta ojek," ujar dia di kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (30/6).

Dari kebiasaan itu semua bermula. Kecintaannya terhadap jasa tukang ojek berhasil mengantarkannya menjadi pengusaha. Pada 2011, saat masih bekerja di perusahaan tersebut, Nadiem perlahan merintis GO-JEK. Namun masih menggunakan sistem sederhana alias manual. Saat itu, penumpang masih menggunakan manual melalui telepon dan kirim pesan via ponsel pintar atau smartphone.

Tiga tahun kemudian, dia memutuskan angkat kaki dari perusahaannya. Padahal saat itu jabatan Nadiem cukup strategis, sebagai direktur e-commerce. Alasannya angkat kaki sederhana.

"Saya tidak betah kerja di perusahaan orang lain. Saya ingin mengontrol takdir saya sendiri," katanya.

Berbekal pengalamannya bekerja di perusahaan berbasis teknologi informasi, Nadiem mulai fokus mengembangkan GO-JEK, bisnis aplikasi jasa dengan mengandalkan teknologi. "Saya jadi pengusaha itu bukan saya yang mau. Saya keluar dan fokus di GO-JEK," kata dia.

Dari pengakuannya, bisnis yang dijalankannya sesungguhnya bukan bisnis transportasi. Nadiem menyebut dirinya dan GO-JEK sebagai perusahaan aplikasi berjiwa sosial.

"Kita tidak punya satu pun armada. Kami perusahaan aplikasi yang berjiwa sosial. Kami hanya penghubung ojek dengan konsumen sebagai pengguna jasa. Jadinya kami membantu ojek Jakarta untuk mendapat servis lain," jelasnya.

Dari pengendara ojek yang semula cuma 20 pengendara kini dia memfasilitasi lebih dari 10.000 pengendara. Dia juga menambahkan, pengendara ojek secara tidak langsung naik kelas setelah masuk GO-JEK. Pemahaman soal teknologi hingga linguistik pun semakin berkembang.

Dia menceritakan, ada pengendara GO-JEK sudah bisa berbicara Inggris lantaran sering melayani para ekspatriat di ibu kota.

"Potensi mereka sebenarnya tidak terbendung. Jadi itu natural dan tidak pernah kita ajarkan," kata dia.

Rekomendasi