Rata-rata, pekerja di Indonesia memutuskan pensiun ketika memasuki usia 55-60 tahun. Pertimbangannya, memaksimalkan waktu bekerja demi uang pesangon yang cukup untuk bekal hidup setelah pensiun. Wajar saja mengingat kebutuhan hidup semakin besar.
Tapi tidak semua pekerja Indonesia berpikir begitu. Dewasa ini makin banyak pekerja yang memutuskan pensiun di usia muda atau lebih dikenal dengan istilah pensiun dini. Mereka yang memutuskan pensiun usia muda, berani mengambil risiko keluar dari 'zona aman' yang selama ini dijalani.
Usia di bawah 40 tahun dianggap tepat untuk pensiun dari pekerjaan. Seseorang sudah dipandang matang dan siap untuk memberi nilai lebih dari sekadar bekerja pada sebuah perusahaan.
"Idealnya memang umur segitu. Karena dengan usia muda, kita masih produktif untuk melakukan banyak hal," ujar Perencana Keuangan Eko Endarto saat berbincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu.
Memang tidak banyak yang berani mengambil langkah pensiun di usia muda. Pemilik Dapur Iga, Feby Salam termasuk salah satu pekerja yang memilih jalan pensiun muda. Usianya baru 26 tahun ketika memutuskan berhenti bekerja dari sebuah perusahaan yang memberinya fasilitas cukup serta gaji besar.
Itu (fasilitas dan gaji) saja tidak cukup membuat Feby berpuas diri. Dia berpikir, sulit membeli aset yang diinginkan jika selamanya hanya menjalankan rutinitas sebagai seorang pekerja. Alasan itu yang akhirnya memberanikan Feby memutuskan mundur dari pekerjaannya. "Saat itu saya memutuskan untuk tidak bekerja pada 2010 lalu," kata Feby.
Sebelum memutuskan keluar dari pekerjaannya, peran batin berkecamuk dalam diri Feby. Dia mencoba menempatkan diri pada kondisi tenang sebelum memutuskan nasibnya sebagai seorang karyawan. Kenyamanan menjalani pekerjaan sudah tentu teramat sayang untuk ditinggalkan. Tapi di sisi lain, 'membeli mimpi' tak cukup hanya bermodal kenyamanan.
"Saat berhenti kerja saya tidak punya rasa takut, dipikir pakai logika kalau saya di perusahaan orang, income sudah pasti saya punya, tapi kalau saya pikir tentang nyaman pasti nyaman, tapi saya tidak bisa membeli keinginan yang lebih," ungkapnya.
Kalau sekadar untuk uang tambahan sebagai pemasukan, Feby pernah mencoba menjalani bisnis sampingan. Tapi tidak berkembang lantaran fokusnya terbagi dua antara pekerjaan rutin dan bisnis yang dijalani.
Orang sukses harus fokus pada yang dijalani. Itulah yang akhirnya memotivasi Feby melangkah pasti meninggalkan pekerjaannya. "Maka saya berkorban untuk lebih menekuni bisnis, tentu semua ada risikonya," jelasnya.
Segala keputusan mengandung risiko di dalamnya. Termasuk memutuskan pensiun di usia muda. Yang paling jelas dan harus siap dihadapi, kantong kering karena tak ada pemasukan setelah tak lagi bekerja. Kondisi ini bisa saja terjadi dalam kurun waktu cukup panjang.
"Dua tahun kemudian (sejak pensiun 2010), saya tidak memiliki penghasilan."
Keputusan pensiun di usia muda hendaknya didasarkan atas pelbagai macam pertimbangan. Mengingat berkaitan dengan kehidupan di masa mendatang. Yang jelas, keputusan pensiun muda bukan dengan pertimbangan coba-coba. Karena itu perlu dipikirkan langkah konkret setelah melangkahkan kaki keluar dari pintu perusahaan.
"Harus sudah mempersiapkan bisnis apa yang disukai, dan berani mencoba. Keputusan (pensiun) dan langkah lanjutan tidak setengah-setengah," pesan Eko.
Jadi, pensiun usia muda? siapa takut.