Belanja iklan tahun ini diperkirakan mencapai Rp 155 triliun atau naik 20 persen dibandingkan tahun 2013, yang mencapai 147 triliun. Dari triliun belanja iklan tersebut, hampir 67 persen masuk pada kantong televisi. Sisanya harus 30 persen cetak dan 3 persen pada outdoor atau digital. "Piala dunia itu, penontonnya paling banyak. Harusnya ini bisa dimanfaatkan dengan baik," ujar Ketua
Tetapi, kemeriahan Piala Dunia yang ditonton jutaan pasang mata masyarakat Indonesia, ternyata dikabarkan tidak menghasilkan pundi keuntungan bagi grup VIVA yang memiliki hak siar piala dunia di antv dan tvOne .
Bahkan, dana sebesar 600 miliar untuk mendapatkan hak siar, tidak bisa ditutupi dari pemasukan iklan selama sebulan penuh siaran piala dunia. Menurut analis pasar modal, VIVA hanya meraup pendapatan kurang dari Rp 200 miliar.
Lantas apa yang salah dari minimnya pemasukan iklan pada program siaran piala dunia di antv dan tvOne?
Advertisement
Satu diantara kemungkinan, minimnya pendapatan iklan dari siaran piala dunia di Indonesia, adalah paket iklan yang ditawarkan tidak menarik bagi pengiklan.
Padahal, kata Ketua Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, Harris Thajeb, adalah tawaran paket iklan yang menarik jadi acuan perusahaan yang ingin beriklan. "Iklan itu bagi perusahaan adalah investasi buat masa depannya, apalagi sekelas piala dunia yang banyak ditonton" katanya.
Dia nilai, VIVA gagal memanfaatkan moment bulan puasa dan piala dunia, untuk meraup pendapatan yang lebih dari tahun sebelumnya."Padahal, biasanya kalau iklan lebaran itu, sudah kontrak di tahun sebelumnya," ujarnya.
Advertisement
Tingginya hak siar piala dunia yang hampir Rp 800 miliar, dinilai sebagai salah hitung perseroan dalam melakukan penawaran pada FIFA, sebagai otoritas sepak bola dunia.
Walaupun, potensi iklan indonesia terus melejit, tetapi ?harga penawaran yang tinggi membuat VIVA harus bekerja keras dan moment lebaran serta sepak bola ini, tidak termanfaatkan dengan baik oleh televisi tersebut.
Beberapa iklan andalan seperti telekomunikasi atau makanan ringan bisa mendongkrak kinerja. Bahkan, otomotif bisa pendongkrak pendapatan yang signifikan."Kacang dan telko ini besar. Walaupun tetap tidak bisa membuat istilahnya modal kembali."
Advertisement
Ketua Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, Harris Thajeb menilai VIVA terlalu percaya diri dengan program piala dunia.
Padahal, berkaca pada empat tahun lalu, program ini pun tidak memberikan kontribusi yang besar pada MNC Group."Mungkin awalnya mereka menawarkan paket yang tinggi, tapi mendekati acara, harga paket diturunkan."
Dia mengatakan sangat wajar, jika perusahaan yang memberi iklan memberikan berbagai penawaran dan berbagai permintaan, sehingga membuat harga iklan paket bisa turun. "Akhirnya, dari pada tidak dapat, lebih baik dapat walaupun tidak bisa menutup biaya hak siar," katanya.
Advertisement
Tidak optimalnya pendapatan iklan saat piala dunia, disinyalir karena tidak adanya iklan rokok yang menjadi pemasok utama pundi-pundi kantong televisi, seperti empat tahun lalu saat hak siar di pegang MNC Group.
"Iklan rokok itu paling besar. Walaupun VIVa dapat iklan telekomunikasi atau makanan ringan, tapi itu tidak sebesar iklan rokok," kata Ketua Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, Harris Thajeb, pada merdeka.com, Senin (14/7).
Dia mengatakan kondisi ini tidak bisa disamakan dengan saat MNC group mendapatkan hak siar. Karena jam siar piala dunia bukan malam hari, otomatis pendapatan iklan rokok jauh berkurang. "MNC waktu itu saya yakin juga tidak bisa menutup dari iklan. Tapi mereka selisihnya lebih sedikit dibanding dengan yang sekarang," katanya.