Harga saham PT. Visi Media Asia Tbk (VIVA) di perdagangan hari ini, Senin (14/7) masih terjerembab di zona merah. Tercatat, hingga penutupan sesi I siang ini, harga saham perusahaan milik Grup Bakrie ini turun 3 poin atau 1,28 persen ke level 231,00.
Melemahnya indeks saham VIVA terjadi sehari setelah gelaran pemilihan presiden. Selain anjloknya harga saham, perseroan juga tengah diguncang isu yang menyebut bahwa VIVA harus menelan kerugian besar dalam penyiaran Piala Dunia.
Untuk menepis kabar yang mengguncang VIVA, Sekretaris perusahaan Neil Tobing hanya mengatakan bahwa fundamental VIVA sangat baik. Menurutnya, itu bisa terlihat dari sisi pertumbuhan pendapatan, rating dan audience shares dari unit usahanya.
Pihaknya akan memaparkan ke publik mengenai kesehatan keuangan perusahaan. "Minggu depan kita akan laporkan kinerja kuartal kedua ke Bursa jadi jangan percaya sama analis," ujar Neil kepada merdeka.com, Senin (14/7).
Terkait anjloknya harga saham VIVA, Neil mengatakan, pergerakan harga saham di lantai bursa tidak dapat dikontrol oleh manajemen perusahaan. Naik turun harga saham sepenuhnya berada pada mekanisme pasar.
"Ada yang spekulasi dan sebagainya, baiknya Anda lihat materi public expose VIVA, tidak ada perusahaan media yang pertumbuhannya lebih baik dari VIVA," jelasnya.
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (10/7), saham VIVA turun paling dalam 6,72 persen menjadi Rp 250 sedangkan saham MNCN turun 6,23 persen menjadi Rp 2.560 pada penutupan perdagangan. Sedangkan pada perdagangan Jumat (11/7), saham VIVA masih terperosok, turun 6,40 persen atau 16 poin pada level Rp 234. Sedangkan saham, MNC berhasil lolos dengan catatan naik 2,93 persen atau 75 poin ke level Rp 2.635.
Analis PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe melihat, turunnya kinerja saham dua emiten tersebut tidak serta merta akibat sentimen negatif terhadap pemberitaan quick count yang memenangkan Prabowo - Hatta.
Dia menyebut, kinerja kedua perusahaan tersebut memang sudah tak positif sejak lama. Salah satu catatannya soal utang yang membelit perusahaan-perusahaan milik Bakrie. Catatan lain soal kinerja keuangan MNC yang tidak maksimal.
Pada akhirnya, dua saham ini mulai dijauhi investor. "Saham VIVA Grup secara fundamental tidak bagus karena beban utang yang berat belum lagi saham MNC Grup juga begitu di mana laporan keuangan kinerja tak bagus sehingga para investor memang sengaja menjauhi kedua saham tersebut," ujarnya ketika dihubungi merdeka.com, Jakarta, Minggu (13/7).
Kemeriahan Piala Dunia dikabarkan tidak menghasilkan pundi-pundi keuntungan bagi grup VIVA. Malah sebaliknya, perusahaan milik Bakrie ini disebut-sebut mengalami kerugian cukup besar karena minimnya iklan yang masuk ke kas perusahaan.
Untuk mendapat hak siar, VIVA harus menggelontorkan dana Rp 600 miliar. Persoalannya, besarnya dana yang dikeluarkan untuk mendapat lisensi Piala Dunia tidak berbanding lurus dengan dana yang diperoleh dari iklan.
Kiswoyo menuturkan, VIVA harus menelan kenyataan pahit mengalami kerugian. Namun, kata dia, mantan CEO VIVA Eric Thohir menampik kabar tersebut.
"Lisensi World Cup dari FIFA kan Rp 600 miliar sedangkan iklan yang masuk kurang dari Rp 100 miliar. Coba lihat iklan Piala Dunia sedikit, kemarin Erick Thohir bilang sudah menutupi iklan, tapi dilihat iklanya tidak sampai Rp 600 miliar, belum lagi dilihat dari rate waktunya cuma berapa menit saja," ujarnya.
Dia menyebutkan, minimnya kontribusi iklan sangat terlihat. Terutama jika dibandingkan dengan gelaran yang sama empat tahun lalu. "Coba bandingkan Piala Dunia 4 tahun lalui di televisi lain," jelas dia.