Maskapai penerbangan Mandala, kembali harus menghentikan operasional penerbangan. Dalam sejarahnya, perusahaan ini selalu dirundung lilitan utang jutaan dolar dan terpaksa memarkirkan pesawatnya sejak dibentuk pada 1969.
Kini, maskapai yang kini bernama Tigerair Mandala yang memiliki 17 rute penerbangan dari Indonesia, awal Juni menghentikan kembali seluruh penerbangan di Indonesia baik untuk tujuan dalam negeri maupun luar negeri. Kesulitan keuangan menjadi alasan perusahaan ini. Padahal, maskapai lain, tengah menikmati pertumbuhan penumpang yang signifikan. Padahal, di 2007, Mandala berkomitmen memesan 30 pesawat airbus baru senilai USD 2,3 miliar.
Era 2005, Mandala kala itu berhutang pada kreditur hampir Rp 800 miliar. Seiring dengan penertiban bisnis TNI, maskapai yang dimiliki para Jenderal di kesatuan Kostrad, harus rela dilego pada investor. "Saat itu sangat rugi," ujar Said Didu yang pernah menjadi ketua tim transformasi bisnis TNI pada merdeka.com, Rabu (19/6).
Dia mengatakan Mandala pada saat itu modalnya sumbangan dari para Jenderal. Sudah dipastikan tidak ada uang negara yang digunakan. Kala itu yayasan harus menjualnya karena rugi. "Memang harus dilepas, selain karena rugi terus, adanya larangan bisnis TNI dan juga tidak ada kaitannya dengan kostrad karena modalnya dari sumbangan pribadi."
Akhirnya, pada 17 April 2006, 100 persen sahamnya dimiliki oleh PT Cardig Internasional, setelah mengakuisisi sepenuhnya dari pemilik lama, Yayasan Konstrad sekitar Rp 300 miliar. Lalu tidak lama 49 persen sahamnya dibeli Indigo.
Tetapi, setelah peralihan Maskapai ini kembali terpuruk, hutang Maskapai melonjak jadi Rp 2,4 triliun dan diselesaikan dengan restrukturisasi. Pada April 2011, tim kurator menyatakan bahwa Mandala akan menjalankan operasinya kembali pada bulan Mei 2011.
Sebagai bagian restrukturisasinya, maskapai ini pun mengalami pergantian kepemilikan saham. Pemegang saham mayoritas adalah PT Saratoga Investment Group sebesar 51 persen, diikuti oleh Tiger Airways dari Singapura sebesar 33 persen, dan 16 persen sisanya dimiliki oleh pemegang saham lama dan para kreditor.
Kini, setelah kepemilikan beralih pada Sandiaga Uno dan Tiger, Mandala kembali terseok. Manajemen pun menawarkan saham pada berbagai maskapai, tetapi rapor merah keuangan membuat Maskapai ini berhenti beroperasi. Alasan penghentian tersebut karena kondisi pasar Mandala terus menurun dan melemahnya nilai tukar Rupiah. Dan sejak 2012, perusahaan terus mengalami kerugian.
Ketua Dewan Komisaris Mandala Airlines, Jusman Syafii Djamal, mengatakan sejak beroperasi kembali di bulan April 2012, pihaknya terus mengalami kerugian. Saat ini, Mandala tidak memiliki sumber daya atau modal memadai untuk melanjutkan kegiatan operasionalnya. "Kami telah berusaha mencari berbagai solusi untuk tetap beroperasi, termasuk berdiskusi dengan calon mitra strategis dan penanam modal."
Ketua INACA Arif Wibowo menegaskan kondisi pasar penerbangan menuntut maskapai menambah kapasitas di tengah tuntutan pasar yang tinggi. "Kita bilang semua airlines melakukan ekspansi saat ekonominya seperti ini, saya pikir masing-masing punya permasalahan sehingga dampaknya cukup berat juga untuk seluruh anggota," katanya.