Menteri Perindustrian MS Hidayat meyakini industri rokok akan tetap hidup di masa mendatang. Meskipun PT HM Sampoerna yang merupakan produsen rokok ternama di Indonesia telah menutup dua pabriknya di Jember dan Lumajang.
Atas dasar itu, Hidayat menegaskan bahwa pemerintah bakal segera menggodok roadmap atau peta jalan pengembangan industri rokok hingga 2025. Dengan peta jalan tersebut, pemerintah memastikan tak akan mematikan industri rokok.
“Kita manage konsumsi. Tapi kita tidak ingin menghapuskan itu sekaligus. Karena kasihan pabrik rokok kan,” katanya saat ditemui Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Senin (19/5).
Terkait penutupan dua pabrik rokok, menurut Hidayat, tak dapat dihindari oleh Sampoerna. Mengingat, pasar kretek tanpa filter atau Sigaret Kretek Tangan (SKT) terus menerus anjlok.
“Itu tak bisa dihindarkan karena memang penurunan volume produksi mereka yang terus menerus turun selama dua tahun menciutkan produksinya,” ujarnya.
Penutupan itu sangat disesalkan oleh lembaga advokasi petani dan buruh industri rokok. Soalnya, 4.900 karyawan Sampoerna terancam dirumahkan.
Mereka menuding penutupan tersebut imbas kebijakan pemerintah yang sengaja mematikan industri tembakau.
"Apa yang sudah kita prediksi sejak lama, itu semuanya terbukti dengan kejadian (PHK Sampoerna). Semakin kental, bahwasanya kampanye antirokok, khususnya kretek, bukan sekadar alasan kesehatan tapi terkait politik dagang," kata Kepala Divisi Hukum Komunitas Kretek Daru Supriyono kemarin.