Produsen rokok PT HM Sampoerna baru saja menutup dua pabrik rokok sekaligus memecat 4.900 karyawannya. Alasannya, penjualan rokok keretek produksi Sampoerna turun.
Sekretaris Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Busharmaidi memaklumi pemecatan karyawan Sampoerna. Sepengetahuannya, pemecatan karyawan dilakukan bukan karena Sampoerna ingin mengganti pembuatan rokok dengan mesin.
"Rokok itu tidak semua bisa diganti dengan mesin. Kita itu padat karya, tidak semua pekerja bisa diganti dengan mesin. Makanya itu bukan karena dia mau menggunakan mesin, tapi pangsa pasarnya memang berkurang," kata Busharmaidy di Graha Sucofindo, Jakarta, Senin (19/5).
Dia menuturkan, pemerintah punya strategi menampung korban PHK, termasuk yang menimpa karyawan PT Sampoerna. Korban PHK bakal mendapat pelatihan menjadi wirausaha. Dengan begitu pekerja tak hanya punya satu keahlian saja dan tak hanya bergantung pada satu perusahaan.
"Mereka sudah kesulitan, tentu bagaimana kita mengalihkan mereka ke bidang usaha yang lain, karena di segmen ini sudah tersendat pasarnya jadi diarahkan ke bidang usaha di bidang lain."
Busharmaidi yakin tidak akan ada lagi penutupan pabrik lain seperti yang dilakukan PT HM Sampoerna. Peristiwa yang terjadi di pabrik rokok tersebut semata karena penjualannya sedang melesu.
"Potensinya masih bagus, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur dan NTB. Kita juga ada di agro harus ada program bahwa tembakau tak hanya digunakan untuk rokok saja," tutupnya.