Penerapan Undang-Undang Mineral dan Batu Bara Nomor 4 Tahun 2009 tentang larangan ekspor mineral mentah berpotensi mengurangi penghasilan PT. Antam Tbk sebesar 10 persen. Sedangkan, pendapatan perseroan tahun lalu sebesar Rp 11,29 triliun."Untuk aturan itu, Antam sudah mengatakan itu akan mengurangi penghasilan, bisa sampai 10 persenan," ujar Menteri Dahlan Iskan di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (10/2).Untuk mengatasinya, Antam telah menyiasati dengan membangun pabrik hilirisasi sebagai pengolahan lumpur Anoda di Pulogadung, Jakarta Timur. Pembangunan pabrik hilirisasi tersebut ditargetkan selesai akhir tahun ini."Jadi Antam membangun pabrik pengolahan lumpur anoda itu sendiri hasil dari pengolahan tembaga di Gresik, nah pengolahan tembaga sendiri hasil pengolahan di Freeport," jelasnya.Selama ini, tambang Freeport diolah kemudian hasil olahannya dikirim ke Gresik. Hasil olahan tembaga dari Gresik tersebut selama ini masih terdapat unsur lumpur, sehingga perlu pembersihan lumpur yang diekspor ke Jepang."Sekarang enggak boleh lagi, boleh nanti kalau sudah ada pabrik disini. Nah Antam mengolah itu, nah itu nanti akan keluar emasnya, macem-macem,"tegasnya.Menurutnya, dengan pengolahan tembaga dari Gresik tersebut dapat menutupi kerugian 10 persen akibat larangan ekspor mineral. Namun, kerugian tersebut dapat tertutupi pada tahun depan."Bisa, malah bisa lebih. Cuma bukan tahun ini, tahun depan, tahun ini membangunnya," tegasnya.Untuk diketahui, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) memperoleh pendapatan persero sebesar Rp 11,29 triliun. Di mana, pendapatan terbesar dari penjualan emas Rp 4,7 triliun atau sekitar 41,6 persen dari total pendapatan perseroan.Emas merupakan kontributor utama pendapatan Antam. Antam menjual emas sebesar 9.391 kilogram (kg) pada 2013, atau naik 34 persen dari tahun sebelumnya 7.024 kg seiring tingginya permintaan. Kenaikan penjualan emas juga menjadi pendorong pendapatan Antam naik tipis dari tahun 2012 sebesar Rp 10,45 triliun."Sekitar 97 persen dari komoditas emas Antam dijual di pasar domestik," jelas Direktur Utama Antam Tato Miraza seperti dikutip dari laporan perseroan, Jumat (31/1)Tato menjelaskan kenaikan volume penjualan emas Antam berhasil menutupi turunnya harga jual emas sebesar 11 persen (year on year) menjadi US$ 1.523,23 per ounce.Nilai penjualan emas Antam pada 2013 lebih tinggi 30 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp 3,63 triliun.Emas yang dijual Antam itu tidak hanya berasal dari produksi dari tambang sendiri, tapi juga dari pembelian pihak ketiga. Produksi emas Antam pada 2013 mencapai 2.562 kg, di mana 1.722 kg berasal dari tambang Pongkor dan 840 kg dari tambang Cibaliung.Tato menilai capaian produksi ini cukup baik di tengah kendala penurunan kadar bijih emas di Pongkor serta adanya kendala teknis di kegiatan penambangan di Cibaliung."Volume produksi emas Antam lebih rendah 11 persen dibandingkan tahun 2012 sekitar 2.874 kg," paparnya.Pada tahun ini, BUMN tambang itu berharap produksi emas Pongkor dapat ditingkatkan sehingga target produksi emas sebesar 2.572 per kg.
Dari target itu, sekitar 1.570 kg berasal dari Pongkor, dan 1.002 kg dari tambang Cibaliung."Untuk penjualan emas target 2014 sebesar 13.570 kg," tuturnya.Secara total, perseroan mencatatkan penjualan (unaudited) sebesar Rp 11,29 triliun pada 2013. Angka ini naik 8 persen dibandingkan pencapaian tahun 2012 sebesar Rp 10,45 triliun. Kontribusi itu berasal dari penjualan emas, nikel, feronikel, bauksit, dan batu bara.
UU Minerba gerus pendapatan Antam 10 persen
Buat menyiasatinya, BUMN tambang itu akan membangun pabrik pengolahan di Jakarta.
Advertisement
Rekomendasi