Nama Gayus Halomoan Partahanan Tambunan sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Gayus dicap sebagai mafia dalam tubuh Direktorat Jenderal Pajak setelah menerima uang dari salah satu perusahaan Grup Bakrie wajib untuk mengurus kasus perpajakan.
Dia sempat kabur dan menjadi buronan hingga akhirnya berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman kurungan 6 tahun dan denda Rp 1 miliar oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Pegawai Bagian Penelaah Keberatan pada Seksi Banding dan Gugatan Wilayah Jakarta II Ditjen Pajak itu juga dipecat dengan tidak hormat dari institusinya.
Kasusnya sudah terjadi lebih dari 3 tahun lalu dan kini Gayus juga sudah mendekam di penjara Sukamiskin, Bandung. Namun, catatan hitamnya terus melekat di tubuh Ditjen Pajak. Sejak kasus mafia pajak Gayus Tambunan mencuat ke permukaan, awan hitam selalu menaungi Ditjen Pajak.
Bos Ditjen Pajak, mulai dari Mochamad Tjiptardjo hingga kini Fuad Rahmany , selalu dibayangi catatan kelam Gayus Tambunan yang berdampak besar bagi institusinya.
Saat kasus Gayus mencuat, Tjiptardjo pernah curhat, anak buahnya yang lain di Ditjen Pajak dicap sebagai 'maling'. "Kalau pas naik angkot, kelihatan tulisan Ditjen Pajak, diteriakin, maling, Gayus. Ini sangat menyedihkan," kata Tjiptardjo pada medio April 2010.
Tidak terbantahkan, dampak negatif kelakuan Gayus memang cukup dahsyat. Secara psikologis mempengaruhi pola pikir masyarakat dan juga pegawai pajak. Saat kasus mafia pajak muncul, semua pegawai pajak disebut sebagai Gayus. Sampai-sampai, kondektur bus pun menyebut institusi Ditjen Pajak dengan sebutan Gayus.
"Kalau penumpang turun di depan kantor pusat Ditjen Pajak, dulu masih bilang pajak. Lalu berubah jadi Gayus..Gayus..," kata dia menirukan.
Pucuk kepemimpinan di Ditjen Pajak sudah berganti, tongkat komando diambil alih Fuad Rahmany . Meski pimpinan berganti, masalah yang sama masih tetap membayangi. Tugas Fuad tidak hanya mengawasi anak buahnya agar tidak muncul lagi Gayus baru, tapi juga memperbaiki citra Ditjen Pajak yang sudah tercoreng akibat ulah Gayus.
Dia tidak menampik, pandangan negatif masyarakat masih melekat pada institusinya. Fuad meminta masyarakat tidak menilai buruk kinerja Ditjen Pajak, sebab pihaknya mengklaim terus melakukan pembenahan dan perbaikan agar tidak ada anak buahnya yang 'menilep' uang rakyat.
Sayangnya, usahanya belum membuahkan hasil. Justru muncul Gayus baru, Dhana Widyatmika yang tahun lalu tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah melakukan transaksi suap dan gratifikasi. Bahkan, nilainya jauh lebih besar dari Gayus.
Fuad prihatin dengan melekatnya nama Gayus dengan institusinya. Seperti Tjiptardjo, dia juga pernah mendapat keluhan soal cap dari masyarakat yang sudah terlanjur negatif ke semua pegawai Ditjen Pajak.
"Jangan sampai sindrom Gayus terus melekat. Bayangkan pegawai kita turun dari bis di depan kantor, langsung diteriaki kernet bis, kiri-kiri Gayus mau turun, padahal pegawai kita masih naik bis," ujar Fuad beberapa waktu lalu.
Dia mengaku geram dengan pegawai pajak nakal seperti Gayus. Saking kesalnya, dia mengajak masyarakat untuk sama-sama menghakimi jika ada Gayus baru. "Kita tabokin bareng-bareng, kita gantung saja," kata Fuad awal tahun ini.
Meski kasus itu sudah lama berlalu, nama Gayus masih saja 'melekat' di Ditjen Pajak. Semisal saat Fuad memberikan gambaran ke pengusaha bahwa pegawai pajak tidak memungut uang pajak, Fuad menyinggung soal Gayus.
"Saya ingatkan tidak ada petugas pajak yang menagih pajak ke masyarakat. Bukan macam Gayus. Pembayaran pajak hanya bisa dilakukan kantor pos dan bank. Kantor ataupun oknum petugas pajak tidak menerima penitipan atau setoran pajak," ujar Direktur Jendral Pajak Kementerian Keuangan Fuad Rahmany saat di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (6/11).
Dia tidak menampik masih ada pelanggaran dari oknum pegawai pajak yang memanfaatkan minimnya pengetahuan pajak masyarakat. Umumnya mereka meminta pembayaran pajak atau menerima jasa pembayaran. Namun kasusnya relatif kecil.
"Ada yang melapor begitu itu salah sendiri. Itu nggak masuk ke kas negara. Kadang ada orang ngakunya pegawai pajak. Tidak ada orang pajak nagih. Itu preman dan oknum. Ada juga yang niru pakaian pegawai sensus pajak," jelasnya.
Sampai kapan nama dan catatan hitam Gayus akan terus melekat di tubuh Ditjen Pajak?