PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) menggandeng PT Rekayasa Industri (Rekind) untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) guna memenuhi kebutuhan listrik di Terminal Teluk Lamong (TTL). Biaya investasi untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas 2x25 MW itu diperkirakan mencapai Rp 1 triliun.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto saat penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PLTG dengan Direktur Utama PT Rekayasa Industri M. Ali Suharsono, di Jakarta, Selasa (23/7).
"Kita desain sebagai terminal semi otomatis pertama di Indonesia. Alat-alatnya modern dan digerakkan dengan tenaga listrik. Itu semua kita lakukan untuk menciptakan pelabuhan yang ramah lingkungan (eco green port)," jelas Djarwo.
Suharsono menambahkan, Saat ini, Rekind tengah melakukan studi kelayakan, meliputi aspek finansial, komersial, teknis, dan aspek legal untuk memenuhi kualifikasi dan spesifikasi pembangunan PLTG tersebut.
"Kami sedang proses kajian, salah satunya terkait dengan pasokan gas yang akan dialirkan ke PLTG di Terminal Teluk Lamong ini," katanya.
Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha Pelindo III Husein Latief mengatakan kebutuhan listrik di Terminal Teluk Lamong mencapai 120 Mega Watt (MW). Itu akan digunakan untuk operasional TTL dan monorel pengangkut petikemas (Automated Container Transporter).
"Kebutuhan kami hingga tahun 2020 mendatang mencapai 120 MW. Tetapi pada awal pengoperasian, daya yang kami butuhkan hanya sekitar 16 MW,"jelasnya.
Untuk itu, Pelindo III juga mengandalkan pasokan listrik dari perusahaan setrum negara alias PLN. Pasokan listrik dari PLTG berkapasitas 2x25 MW hanya akan digunakan pada saat beban puncak.
"Skema pasokan listrik kami buat menjadi dua sumber, pertama dari PLN dan yang kedua dari PLTG ini," katanya
Sebagaimana diketahui, Pelindo III saat ini tengah melakukan pembangunan Terminal Teluk Lamong yang berlokasi di perbatasan antara Surabaya dan Gresik. Rencananya, proyek terminal yang menelan biaya investasi sebesar Rp 3,4 triliun tersebut akan dioperasikan pada awal 2014 mendatang.
Terminal ini merupakan proyek perluasan dari Pelabuhan Tanjung Perak dan akan digunakan untuk melayani petikemas domestik, petikemas internasional, dan curah kering internasional.
Pada tahap awal, terminal ini akan ditunjang dengan sejumlah fasilitas berupa dermaga internasional dengan panjang 500 x 50 meter, dermaga domestik 450 x 30 meter, lapangan penumpukan curah kering seluas 10 hektar, lapangan penumpukan petikemas seluas 15,86 hektar, kantor dan truk area seluas 7 hektar.