Nilai tukar rupiah terus melemah dan kini mendekati Rp 10.000 per USD. Ini terjadi karena beberapa berita negatif yakni kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan turunnya nilai cadangan devisa dalam 5 bulan terakhir sebanyak USD 7,78 miliar yang digunakan untuk keperluan operasi moneter.
Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia Umar Juoro mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh ketidakpastian kebijakan pemerintah.
"Harga BBM ini jadi naik atau tidak, sampai sekarang belum jelas. Bagi pelaku ekonomi atau investor, mereka susah mengantisipasi. Maka mereka mencari selamat saja, jual rupiah ditukar dolar," ujar Umar kepada merdeka.com di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, Selasa (11/6).
Umar mengatakan, BUMN operator migas, Pertamina yang paling banyak menyedot dolar karena harus membayar impor minyak. Ini juga ditunjukkan dari neraca perdagangan yang terus defisit akibat impor minyak dan BBM.
"Kan permintaannya naik secara periodik, karena selalu bayar utang ke luar negeri. Jadi sementara suplai dolar tak ada tambahan secara signifikan," jelas dia.
Sebelumnya, melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS (USD), membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo lebih memperketat monitoring, mengevaluasi dan mengawasi pergerakan nilai rupiah.
"Presiden memonitoring, mengevaluasi dan pengawasan pergerakan nilai tukar rupiah terus dilakukan dengan tetap berkoordinasi dengan gubernur BI agar nilai tukar rupiah tetap berjalan," ujar Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Firmanzah di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.