Pemerintah menyatakan, meski di tengah derasnya gempuran impor, kinerja ekspor Indonesia masih mencatatkan surplus. Surplus ekspor terdapat pada sektor nonmigas melalui sumbangan komoditas bahan kimia dan kapal laut.Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, mengatakan perkembangan ekspor nonmigas mulai dari awal tahun tetap tumbuh 1,6 persen dan mencatatkan surplus USD 2 miliar selama dua bulan pertama tahun ini. Dari sisi volume pun ekspor nonmigas berhasil tumbuh mencapai 12,5 persen."Kita nonmigasnya tumbuh 12,5 persen artinya barang Indonesia masih diminati di pasar internasional dan kita bisa jual lebih banyak," kata Bayu di kantornya, Selasa (2/4).Komoditas yang paling moncer adalah bahan kimia dan kapal laut. Khusus kapal, tren kenaikan ekspor karena pada triwulan pertama ini adalah masa pengiriman pesanan kapal dari luar negeri atas pesanan tahun lalu."Kapal laut pas Januari sampai Februari adalah waktu deliver. Sementara komoditas unggulan kita seperti mesin, otomotif, dan alas kaki juga masih bagus," tegasnya.Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan, ekspor mesin dan mekanik mencapai USD 1,7 miliar atau naik 3,7 persen dibanding periode sama tahun lalu. Pertumbuhan tertinggi dicatatkan produk kimia sebesar USD 610 juta, atau naik 20,9 persen year on year. Alas kaki juga meningkat 9,6 persen mencapai USD 621 juta.Dari aspek negara tujuan ekspor, pertumbuhan volume terbesar terjadi di Pakistan sekitar 73 persen dengan nilai transaksi sebesar USD 123 juta dan Mesir sekitar 54 persen dengan nilai transaksi tercatat mencapai USD 87 juta.Untuk impor, masalah Indonesia masih sama. Tekanan terjadi lantaran pemerintah masih mendatangkan bahan bakar dalam bentuk jadi. Ini membuat impor minyak naik sekitar 3,5 persen."Ini yang agak membahayakan, kita tidak impor minyak mentah, tapi yang banyak kita impor BBM jadi dan digunakan langsung sebagai sumber energi," ungkap Bayu.Total impor Indonesia bulan lalu mencapai USD 30,8 miliar, naik 4,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.Neraca perdagangan Indonesia sendiri pada periode Januari sampai Februari masih belum menggembirakan. Defisit total akibat impor bahan bakar mencapai USD 327,4 juta.
Kapal laut dan bahan kimia jadi primadona produk ekspor
Ekspor nonmigas mencatatkan surplus USD 2 miliar selama dua bulan pertama tahun ini.
Advertisement
Rekomendasi