Produksi semen grup Bosowa tiga bulan terakhir melempem lantaran distribusi bahan baku seret. Kapal pengangkut bahan yang diperlukan untuk membuat semen terhambat di pelabuhan.Presiden Direktur Bosowa Grup Erwin Aksa menyatakan dari perkiraannya, produksi semen perusahaannya anjlok 20 persen akibat cuaca ekstrem tersebut. "Ekstrem cuacanya, banyak kapal enggak bisa jalan, tiga bulan ini kita harusnya sudah di (produksi) 600 ribu sampai 700 ribu ton. Jadi turun 20 persen," ujarnya di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta, Selasa (5/3).Penyebab lain anjloknya produksi semen Bosowa adalah belum selesainya tender proyek penambahan kapasitas di beberapa pabrik milik pengusaha Sulawesi Selatan itu. Bosowa tercatat melakukan ekspansi di Sorong dan Maros untuk meningkatkan kapasitas produksi semen tahunan mereka. Tahun ini pabrik baru Bosowa di Banyuwangi diharapkan rampung dan menyumbang 1,5 juta ton, ditambah Maros 5,5 juta ton dan Batam 1,5 juta ton, sehingga total produksi tahunan Semen Bosowa mencapai 9 juta ton.Selain itu, Bosowa masih mengincar lahan di Rembang buat pabrik semen baru. Namun sampai sekarang, ekspansi itu belum bisa dilaksanakan karena persoalan izin dengan Kementerian Kehutanan. "Selain lahan, kita juga harus bicarakan dulu dengan Kemenhut, karena itu hutan ya, masih terus berjalan (perizinannya)," kata Erwin.Di sisi lain, Erwin membantah selentingan bahwa Bosowa sedang merambah bisnis maskapai penerbangan dan televisi nasional. Dia mengatakan fokus utama kelompok usahanya tetap pada bisnis otomotif, industri semen dan jasa keuangan. "Enggak, maskapai, enggak ada, teve belum tahu," ungkapnya.
Musim hujan, produksi semen Bosowa anjlok 20 persen
Perusahaan milik Jusuf Kalla ini mengaku belum berencana masuk sektor media.
Rekomendasi