Merebaknya kasus kematian unggas di beberapa daerah pulau Jawa, akibat varian baru H5N1 alias flu burung yang lebih berbahaya, membuat Kementerian Perdagangan mengambil langkah antisipasi menanggulangi penyebaran virus biar tidak menyebar ke beberapa daerah lainnya.
Kementerian Perdagangan mengaku telah berkoordinasi memantau perdagangan unggas. Sebagai langkah antisipasi dalam negeri, sistem karantina antar pulau bakal dilakukan.
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menilai kebijakan tersebut dilakukan karena penyebaran virus bisa terjadi di daerah lain. "Kita akan memantau pergerakan perdagangan itik dan ayam, kita ingin mengarahkan perdagangan unggas antar pulau harus mendapat karantina," ujarnya dalam seminar di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (19/12).
Data Kemendag, beberapa daerah yang menjadi sentra pengembangan itik di luar Jawa adalah Kalimantan Barat dan Lampung. Sementara salah satu daerah yang paling banyak mengonsumsi itik adalah Bali.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Gunaryo menyatakan wabah ini harus dipantau perkembangannya agar tidak seperti kasus flu burung 2005-2006. Penanganan teknis karantina di pelabuhan akan dikoordinasikan dengan kementerian perindustrian dan pertanian. "Kita perlu waspada dan sangat berhati-hati sehingga langkah antisipasi sangat diperlukan," tegasnya.
Selain itu, impor dari negara-negara yang potensial mengalami wabah flu burung seperti Australia dan China bakal dihentikan.