Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Salis Aprilian mengungkapkan, pihaknya bersiap melakukan ekspansi ke 8 blok minyak dan gas baru di luar negeri. "Memang target kami ada delapan," ujar Salis di Jakarta, Kamis (5/4). Salis menyebutkan, delapan blok migas tersebut ada di negara-negara Timur Tengah, Thailand, Myanmar, dan Vietnam.
Saat ini, PHE mempunyai tujuh blok migas di luar negeri yang bermitra dengan perusahaan migas asing. Salis memaparkan, untuk blok migas SK-305 yang ada di Malaysia, produksinya turun menjadi 2.000 barel per hari (bph). Padahal sebelumnya mampu berproduksi hingga 6.000 bph. Sedangkan produksi gasnya mencapai 200 mmscfd. "Produksi di Malaysia kebanyakan gas. Saat ini, kami sedang negosiasi untuk harga gas," ujarnya.
Blok migas SK-305 dimiliki oleh Pertamina Hulu, PVEP (Vietnam), dan Petronas Carigali, di mana Petronas menjadi operatornya. Untuk blok migas 10 dan 11,1 yang ada di Vietnam tetapi saat ini masih dalam tahap eksplorasi.
Untuk blok BMG di Australia, baru memproduksi minyak 100 barel per hari. Hal ini membuat produksi blok BMG tidak ekonomis. "Pertamina Hulu yang mempunyai 10 persen saham, sedang mengkaji untuk memindahkan sahamnya ke aset lain," katanya.
Sedangkan untuk blok 17-3 dan 123-3 di Libya dan blok 3-WD di Irak masih terhenti karena pemerintah setempat belum memberikan izin untuk eksplorasi menyusul perang yang terjadi di Libya. Saat ini, hanya ada kantor perwakilan Pertamina di Libya dan Irak. "Belum ada lampu hijau dari pemerintah sana, tapi kami telah informasikan ini daerah Pertamina," tambahnya.
Sementara blok 13 di Sudan juga masih belum berjalan karena konflik di negara tersebut belum tuntas. Namun, akses ke blok migas milik Pertamina terbuka lantaran terletak di Sudan Utara.