Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menegaskan kalangan pengusaha meminta pemerintah untuk tidak menaikkan tarif listrik bersamaan dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Selain itu, pengusaha menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia akan berdampak langsung pada pengusaha.
"BBM subsidi naik kami bisa terima. Kami tahu, harga minyak dunia akan naik terus karena kondisi politik di Iran yang terus akan bergejolak," ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi di Jakarta Rabu (14/3).Dengan kenaikan BBM bersubsidi pengusaha hanya mendapatkan efek tidak langsung berupa kenaikan harga distribusi barang yang akan berpengaruh terhadap biaya produksi mencapai 5 sampai 10 persen."Kami tahu itu, tapi kalau BBM naik, disertai dengan listrik yang naik juga tahun ini, kami enggak tahu apa kami bisa jualan lagi apa enggak," tegasnya.Pemerintah mengajukan kenaikan listrik yang akan diberlakukan secara bertahap mulai bulan Mei 2012 sebesar 3 persen. Hal ini akan menambah berat untuk para pengusaha. "Kenaikan listrik itu kena langsung ke kami, dan pengusaha skala UMKM yang langsung kena, seperti pengusaha tekstil. Mereka pakai mesin jahit semua, itu kenaikannya ngaruh sekali," katanya.Dia menuturkan jika pemerintah tetap melaksanakan kebijakan tersebut bersamaan maka kalangan pengusaha memastikan adanya pengurangan terhadap daya beli masyarakat apalagi di tengah isu perlambatan ekonomi dunia yang semakin mengancam. Apindo sudah mengajukan penundaan kenaikan tarif listrik agar tidak memberatkan pengusaha. Namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari pemerintah atas usulannya tersebut."Kami tidak yakin bisa jualan di tengah kondisi seperti itu, belum lagi gempuran barang-barang impor dan ekonomi dunia yang melambat," katanya.