Ramai Miliarder Amerika Jual Saham, Antisipasi Krisis Pasar atau Strategi Investasi?

Mark Zuckerberg dari Meta, Safra Catz dari Oracle, dan Jamie Dimon dari JPMorgan merupakan tiga dari sepuluh penjual saham teratas.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani - Reporter
Ramai Miliarder Amerika Jual Saham, Antisipasi Krisis Pasar atau Strategi Investasi?
CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Jacquelyn Martin) (© 2025 Liputan6.com)

Banyak pemimpin bisnis serta individu terkaya di Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan kekayaan yang signifikan, mencapai jutaan bahkan miliaran dolar AS sejak awal tahun 2025. Penurunan ini berkaitan erat dengan kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang berdampak pada kondisi pasar.

Beberapa di antara mereka mungkin menghadapi kerugian yang lebih besar jika tidak melakukan penjualan saham senilai jutaan dolar AS sebelum pengumuman tarif Trump pada awal April 2025.

Mengutip dari CNN, CEO Meta, Mark Zuckerberg, CEO Oracle Saftra Catz, dan CEO JPMorgan Jamie Dimon termasuk dalam daftar 10 penjual saham teratas berdasarkan nilai selama tiga bulan pertama tahun ini, menurut data dari Washington Service yang memantau transaksi individu di perusahaan.

Secara keseluruhan, sepuluh penjual teratas tersebut berhasil menjual lebih dari 28 juta saham, dengan total nilai mencapai USD 3,9 miliar atau sekitar Rp 65,63 triliun (dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 16.828), selama kuartal pertama.

Penjualan ini terjadi sebelum pasar mengalami penurunan tajam setelah pengumuman Trump pada 2 April mengenai kenaikan tarif yang lebih luas kepada mitra dagang AS.

Meskipun Donald Trump telah menunjukkan ketidakpastian dalam banyak rencana tarif tersebut, kondisi pasar tetap terguncang.

Bloomberg menjadi yang pertama melaporkan data dari Washington Service tersebut. Perwakilan dari Zuckerberg dan Catz tidak segera memberikan tanggapan terhadap permintaan komentar.

Sementara itu, seorang perwakilan Dimon menjelaskan bahwa penjualan tersebut telah direncanakan dan diinformasikan beberapa bulan sebelumnya. Umumnya, para eksekutif perusahaan menjual saham mereka secara terjadwal, dan tidak ada indikasi bahwa penjual teratas tersebut berusaha untuk mengambil keuntungan lebih cepat dari pengumuman tarif.

Namun, keputusan mereka untuk menjual pada waktu yang tepat membantu mengurangi kerugian dalam nilai kepemilikan saham dibandingkan jika mereka menjual beberapa minggu setelahnya.

Selama kuartal pertama, Zuckerberg melepas 1,1 juta saham dengan total nilai mencapai USD 733,5 juta, setara dengan sekitar Rp 12,34 triliun. Data dari pengajuan Komisi Sekuritas dan Bursa mengindikasikan bahwa transaksi ini berlangsung pada bulan Januari dan Februari, saat saham Meta sebagian besar diperdagangkan di atas USD 600.

Menurut Bloomberg Billionaires Index, penurunan harga saham Meta telah menyebabkan kekayaan bersih Zuckerberg menyusut hampir USD 30 miliar sejak awal tahun ini hingga hari Selasa. Meskipun telah melakukan penjualan, Zuckerberg masih memiliki lebih dari 342 juta saham Meta, yang merupakan sekitar 13% dari total saham perusahaan.

Penurunan kekayaan Zuckerberg tahun ini sangat mencolok, terutama mengingat upaya yang ia lakukan untuk mempererat hubungan dengan Trump. Hal ini mungkin dilakukan dengan harapan bahwa kebijakan dan tindakan Trump dapat memberikan keuntungan bagi laba bersih perusahaannya.

Upaya tersebut termasuk menyumbang dan menghadiri pelantikan presiden, serta menyetujui perjanjian senilai USD 25 juta, atau sekitar Rp 420,77 miliar, untuk menyelesaikan gugatan yang diajukan Trump terhadap perusahaan tersebut. Gugatan itu berkaitan dengan penangguhan akun Trump setelah insiden serangan Capitol pada 6 Januari 2021, di mana USD 22 juta atau Rp 370,2 miliar dari jumlah tersebut akan digunakan untuk mendanai perpustakaan kepresidenan Trump yang akan datang.

Catz menjual 3,8 juta saham Oracle yang bernilai USD 705 juta, setara dengan sekitar Rp 11,8 triliun pada kuartal pertama, seperti yang dilaporkan oleh The Washington Service. Sementara itu, Dimon dari JPMorgan melepas lebih dari 860.000 saham (JPM) dengan total nilai USD 233,8 juta atau Rp 3,93 triliun pada kuartal yang sama. Dimon juga telah mengingatkan bahwa resesi adalah "hasil yang mungkin terjadi" akibat kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh Trump.

Menurut The Washington Service, sepuluh penjual saham teratas berdasarkan nilai saham yang dijual pada kuartal pertama meliputi Zuckerberg, Catz, dan CEO Palo Alto Networks, Arora Nikesh. Di samping itu, terdapat juga Direktur Nutanix, Max de Groen, Direktur Axis Capital Holdings, Charles Davis (yang sahamnya dijual oleh Stone Point Capital, tempat Davis menjabat sebagai ketua dan co-CEO), serta Presiden Palantir, Stephen Cohen. Selain mereka, Dimon, CEO Tempus AI, Eric Lefkofsky, Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, dan Ketua Dutch Bros, Travis Boersma, juga termasuk dalam daftar tersebut.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)
Rekomendasi