Sebagai pendiri Microsoft dan salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi, Bill Gates identik dengan kesuksesan dan kekayaan luar biasa. Dengan kekayaan bersih yang melebihi USD112,5 miliar atau Rp1.859 triliun (kurs Rp16.527) banyak orang mengira anak-anak Gates akan tumbuh sebagai pewaris utama dari harta raksasa itu.
Namun kenyataannya jauh dari dugaan. Gates justru memilih jalur berbeda dalam hal warisan, yang mencerminkan pandangannya soal nilai kerja keras dan tanggung jawab sosial.
Melansir Yahoo Finance, dalam sebuah wawancara dengan The Daily Mail pada 2011, Gates mengungkapkan ketiga anaknya hanya akan menerima sebagian kecil dari kekayaannya. Jumlahnya pun jauh dari bayangan publik, masing-masing hanya akan mewarisi sekitar USD10 juta atau Rp165 miliar.
Keputusan ini, kata Gates, bukanlah keputusan impulsif, melainkan pilihan yang didasarkan pada prinsip bahwa warisan besar justru bisa menjadi penghambat dalam membentuk karakter dan motivasi seseorang.
Pernyataan mengejutkan ini memicu diskusi luas di kalangan masyarakat, khususnya mengenai konsep warisan, kekayaan, dan peran orang tua kaya dalam membesarkan anak-anak mereka. Sikap Gates kembali menjadi sorotan pada sesi tanya jawab “Ask Me Anything” di Reddit pada 2013.
Salah satu pengguna mengomentari betapa pengaruh filantropi Gates telah mengubah cara pandang orang kaya lainnya terhadap warisan. "Banyak orang kaya yang saya kenal mengidolakan Bill Gates, bukan karena kiprahnya di Microsoft, tapi karena kemurahan hatinya. Bahkan, keputusan Bill untuk hanya meninggalkan 10 juta dolar untuk anak-anaknya membuat orang tua teman-teman saya membatalkan dana perwalian mereka yang nilainya ratusan juta dolar.”
Menanggapi komentar tersebut, Gates menegaskan kembali pendiriannya. Ia berkata, “Saya sungguh percaya bahwa mewariskan uang dalam jumlah besar kepada anak-anak bukanlah kebaikan bagi mereka. Warren Buffett pernah membahas ini dalam sebuah artikel di Fortune pada 1986, jauh sebelum saya mengenalnya dan sejak saat itu saya mulai berpikir dan akhirnya setuju. Tidak semua orang sependapat, tetapi Melinda dan saya merasa yakin dengan keputusan ini.”
Meski bercerai pada 2021, Bill dan Melinda tetap memegang teguh rencana warisan untuk anak-anak mereka. Spekulasi publik sempat muncul, terutama karena mereka tidak memiliki perjanjian pranikah, namun pada akhirnya keputusan mereka tidak berubah. Keduanya tetap konsisten bahwa anak-anak mereka tidak perlu mewarisi kekayaan besar untuk menjalani kehidupan yang berarti.
Gates bukan satu-satunya miliarder yang menganut pandangan ini. Sejumlah tokoh kaya lainnya juga mulai mempertanyakan nilai dari mewariskan kekayaan besar kepada anak-anak.
Pandangan ini menyoroti dilema yang lebih besar apakah kekayaan adalah anugerah atau beban jika diwariskan secara utuh?
Di sisi lain, masyarakat umum pun mulai mengalami pergeseran pandangan.
Sebagian orang menganggap pengurangan hak waris bisa menimbulkan konflik keluarga, namun ada pula yang percaya bahwa warisan secukupnya justru menjadi dorongan untuk pencapaian pribadi.
Studi dari Merrill Lynch dan Age Wave menunjukkan bahwa dua pertiga warga Amerika berusia di atas 55 tahun kini memilih untuk mulai mendistribusikan sebagian kekayaannya saat masih hidup.
Rata-rata, mereka membagikan 30 persen dari harta mereka kepada keluarga untuk mendukung kebutuhan yang sedang berlangsung dan untuk bisa menyaksikan langsung dampak dari kontribusi tersebut.
Studi yang sama juga mengungkap bahwa 94 persen responden di atas usia 55 tahun mendefinisikan hidup yang dijalani dengan baik sebagai memiliki keluarga dan teman yang mencintai mereka.
Hanya 10 persen yang mengaitkannya dengan mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin. Ini menegaskan bahwa nilai hidup bukan sekadar soal uang, melainkan soal hubungan dan kontribusi.
Bagi sebagian besar orang, mewariskan USD10 juta kepada anak-anak tentu terdengar sangat dermawan. Namun dalam konteks kekayaan miliarder seperti Gates, keputusan ini dianggap radikal. Dari pewaris Hermes yang ingin mengadopsi tukang kebunnya, hingga keluarga biasa dengan aset terbatas, isu warisan tetap menjadi topik personal dan emosional.