Pertamina tetap nombok meski subsidi ditambah, ESDM sebut demi jaga keuangan negara

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ego Syahrial, mengakui bahwa dengan subsidi yang bakal ditambah pemerintah, Pertamina masih harus menombok. Pemerintah tentu juga tidak bisa memberikan subsidi dengan nilai yang terlalu besar. Sebab, harus mempertimbangkan kondisi keuangan negara.

Wilfridus Setu Embu
Oleh Wilfridus Setu Embu - Reporter
Pertamina tetap nombok meski subsidi ditambah, ESDM sebut demi jaga keuangan negara
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Ego Syahrial. Anggun ©2017 Merdeka.com

Pemerintah akan menambah alokasi subsidi untuk solar menjadi Rp 1.000 per liter dari sebelumnya Rp 500 per liter. Bersamaan dengan hal tersebut pemerintah juga berencana menambah besaran subsidi listrik untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Penambahan subsidi BBM jenis Solar dimaksudkan untuk mengurangi beban Pertamina yang harus menanggung margin pembayaran. Saat ini Pertamina harus menombok sebesar Rp 1.800 per liter Solar.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ego Syahrial, mengakui bahwa dengan subsidi yang bakal ditambah pemerintah, Pertamina masih harus menombok.

"Iya kita paham badan usaha (Pertamina) terbebani keuangannya, tapi ini kan kita lagi proses mengusulkan dari Rp 500 ke Rp 1.000," ungkap dia, di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/3).

Meskipun demikian, menurut Plt Dirjen Migas ini, pemerintah tentu juga tidak bisa memberikan subsidi dengan nilai yang terlalu besar. Sebab, harus mempertimbangkan kondisi keuangan negara.

"Iya dia sih mintanya kalau bisa nol. Tapi kan kita juga harus jaga keuangan negara. Fiskal kita juga harus perhatikan," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Pemasaran Pertamina M Iskandar mengatakan penambahan subsidi untuk Solar akan membantu keuangan perseroan. Sebab, selama ini Pertamina masih menombok agar harga bahan bakar minyak Premium dan Solar tidak akan naik hingga 2019.

"Menteri keuangan sudah ngasih tambahan subsidi Rp 500 dalam rangka menstimulus. Itu karena Solar lebih dalam lagi Rp 1.800 per liter," ujarnya, di Gedung DPR RI, Jakarta.

Rekomendasi