Pertambangan Freeport Masih Berjalan Meski Izin Ekspor Habis

Selasa, 26 Februari 2019 19:16 Reporter : Merdeka
Pertambangan Freeport Masih Berjalan Meski Izin Ekspor Habis freeport. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Juru Bicara PT Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan, kegiatan operasi pertambangan belum terganggu izin ekspor yang habis pada sejak 15 Februari 2019, sebab gudang penyimpanan konsentrat tembaga masih cukup untuk menampung.

"Belum belum, kita masih jalan normal biasa, gudang masih cukup belum ganggu pengiriman," kata Riza, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (26/2).

Menurutnya, perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut masih bisa melakukan pengapalan konsentrat tembaga, untuk memasok fasilitas pemurnian tembaga PT Smelting di Gresik‎.

"Artinya selama gudang masih cukup, kita masih bisa mengapalkan ke Gresik, ya masih jalan,"‎ tuturnya.

Riza melanjutkan, selama proses pengapalan konsentrat tembaga masih ‎berjalan maka kegiatan pertambangan masih normal, dia pun berharap pemerintah segera mengeluarkan izin ekspor konsetrat tembaga.

"Nanti kalau sudah gudang udah penuh di resiknya sudah (penuh). Nah itu baru ada masalah‎," tandasnya.

Rekomendasi izin ekspor dikeluarkan Kementerian ESDM, syarat utama untuk mendapat rekomendasi adalah kemajuan membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter). Setelah rekomendasi terbit kemudian diajukan ke Kementerian Perdagangan untuk mendapat Surat Persetujuan Ekspor dari Kementerian Perdagangan.

‎Sebelumnya, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) belum memberikan rekomendasi ekspor mineral olahan (konsentrat) tembaga ke PT Freeport Indonesia, meski batas izin waktu ekspor habis pada 15 Februari 2019.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan evaluasi permohonan perpanjangan rekomendasi izin ekspor konsentrat, dengan mengacu Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2018 tentang pengusahaan pertambangan mineral dan batubara.

‎"Dievaluasi persyaratannya sesuai Peraturan Menteri Nomor 25, Pertura Menteri itu saja (patokannya)," kata Bambang.

Menurut Bambang, karena pengajuan rekomendasi izin masih evaluasi, maka perusahaan tamban yang 51 persen sahamnya milik Indonesia Asalaham Alumunium (Inalum) tersebut belum mendapat izin ekspor konsentrat tembaga. "Belum (keluar izin ekspor konsentratnya).‎ Ya dievaluasi, kok kenapa," ujarnya.

Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono

Sumber: Liputan6.com [azz]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini