Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pernah jadi Pencuci Piring, Ali Muharam Sukses Bisnis Makaroni Ngehe Modal Rp20 Juta

Pernah jadi Pencuci Piring, Ali Muharam Sukses Bisnis Makaroni Ngehe Modal Rp20 Juta Ali Muharram Pendiri Makaroni Ngehe. Rhandana Kamilia ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Bagi Founder Makaroni Ngehe, Ali Muharam, kehidupan dimulai ketika dirinya merantau ke Jakarta. Tekadnya adalah ingin sukses dan tidak merepotkan orang lain.

Ali merantau ke Jakarta pada 2005. Dia pergi berkelana sendiri tanpa ditemani seorang-pun. Yang membuat dirinya nekat adalah tujuan hidupnya. Dia hanya ingin sukses, tetapi tidak tahu bagaimana caranya.

"Secara akademis, saya tidak kuliah. Secara koneksi pun saya tidak punya siapa-siapa," ujar Founder Makaroni Ngehe Ali Muharam, di Hotel Mulia, Senin (19/8).

Menjajal berbagai profesi pun sudah pernah dilakoninya. Mulai dari penjaga dan pencuci piring di warteg sampai penulis skenario sebuah sinetron.

Tanpa pengalaman tersebut, dirinya menuturkan bahwa tidak akan bisa mencapai kesuksesan. Lalu, untuk sampai ke titik tersebut dia mempunyai sebuah prinsip. Prinsip untuk memiliki kesuksesan dalam berbisnis adalah bisnis yang tidak hanya sekadar untuk diri sendiri, tetapi juga bisa bermanfaat bagi orang lain.

"Saya harus bisa bermanfaat untuk seseorang, minimal satu orang, yaitu saya bisa merekrut seorang pengangguran," jawabnya.

Baginya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua orang berhak untuk memiliki kesuksesan versinya masing-masing. Hal itu bergantung kepada cita-cita seseorang. "Semua orang punya mimpi atau cita-cita, tapi analisa saya bahwa semua orang itu punya potensi," ucapnya.

Titik pencapaiannya saat ini juga merupakan warisan dari sang Ibu. Dirinya bercerita bahwa dulu camilan makaroni ini selalu disediakan di rumah ketika ada tamu yang datang.

Ketika sang Ibu sudah tiada, Ali memutuskan untuk menggunakan resep dari sang Ibu dan dijadikan sebagai langkah awal dalam membuka usaha makaroni di gerobak kecil. Rupanya, bisnis ini terus tumbuh. Dari berjualan lewat gerobak menjadi sebuah gerai.

Saat ini, Gerai Makaroni Ngehe sudah tersebar di area Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Karawang, Purwokerto, Semarang, Surabaya, Malang, dan Palembang. Camilan ini sudah memiliki 33 outlet dan sekitar 350 karyawan.

"Untuk membangun makaroni ini harus ada planning, yaitu 50 persen plan dan 50 persen nekat," ucapnya sambil tertawa.

Dengan modal awal sebesar Rp 20 juta, dia berhasil memperluas bisnisnya dimulai dengan satu gerai di wilayah Kebon Jeruk. Modal tersebut dia dapatkan melalui pinjaman dari temannya.

Tentunya, camilan makaroni ini sudah banyak ditiru oleh kompetitor. Namun, untuk tetap bertahan di industri ini, kualitas pada servis yang menjadi perhatian utama Ali terhadap bisnisnya.

"Mereka lupa bahwa bisnis itu bukan hanya 1000 persen totalitas. Bukan hanya dari segi orang bisa beli atau cicip. Kita harus kasih perhatian kepada SDM-nya juga. Hal itu lah yang bisa mempertahankan untuk selalu terjaga kualitasnya dan servisnya," ucapnya.

"Ketika makanan enak, tapi servisnya tidak bagus, orang tidak akan balik lagi ke sini. Jadi tidak cuma di produk, tapi detail lainnya juga harus diperhatikan" tambahnya.

Sebenarnya, tujuannya menjadi entrepreneur adalah mencari freedom atau kebebasan agar bisa melakukan apa yang disukainya.

Kendati demikian, bagaimana nama Ngehe menjadi sebuah brand makanan? Ali menceritakan bahwa kehidupannya yang 'ngehe' ini membawanya pada nama camilan makaroni yang sekarang populer di masyarakat.

"Ngehe ini ada artinya. Setelah saya dapat nama ngehe, saya mulai memikirkan apa arti yang benar. Nationalism Giving Entrepreneurship Humanism Environment. Saya cinta Indonesia, peduli lingkungan, dan memberi kepada sesama," tandasnya.

Reporter Magang: Rhandana Kamilia

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP