Penyumbang Ekspor dan Devisa Besar, Industri Jasa Diminta Dioptimalkan
Merdeka.com - Ekonom Faisal Basri menyebutkan orientasi ekspor Indonesia saat ini telah mengalami perubahan. Indonesia menurutnya tidak lagi menjadi negara pengekspor barang, melainkan jasa. Hal itu tentu saja harus dimanfaatkan dan dijadikan peluang oleh pemerintah untuk mengejar target ekspor.
"Perekonomian kita ditandai oleh sektor-sektor penghasil barang tumbuh 3 persenan, sementara jasa tumbuh 6 persenan," kata dia dalam sebuah acara diskusi di Kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (27/3).
Dia mengungkapkan, sebetulnya ekspor barang tidak digenjot pun tidak menjadi masalah. Sebab saat ini justru terjadi kenaikan konsumsi dalam negeri yang cukup signifikan. Hal itu menandakan barang-barang yang diproduksi dalam negeri justru diserap oleh kebutuhan dan permintaan domestik.
"Konsumsi naik 5 persenan jadi buat apa ekspor? Tidak berarti ekspor turun jelek, itu penyerapan dalam negeri naik lebih cepat dari pasokannya, jadi ikhlaskan saja," ujarnya.
Dia mengakui, beberapa komoditas seperti makanan dan minuman, karet dan beberapa komoditas lainnya memang masih menjadi primadona ekspor Indonesia. Namun, tidak dapat dipungkiri saat ini Indonesia memperoleh keuntungan lebih tinggi dari ekspor jasa.
"Secara umum ekonomi kita bukan penghasil barang lagi tapi penghasil jasa. Ekspor barang turun terus 51 persen. Kemudian pekerja di sektor jasa naik 55 persen, di sektor barang 45 persen. Di barang kan robot makin banyak," ujarnya.
Selain itu, dilihat dari sisi penyumbang devisa terbesar saat ini juga berasal dari sektor jasa. "Penyumbang devisa itu kan jasa, turis sumbang USD 14 miliar, tenaga kerja USD 11 miliar. Jadi kalau dua ini sudah USD 25 miliar. Kita ekspor perawat saja untuk orang-orang tua di Jepang. Barang sudah ke Vietnam semua, Bangladesh, Laos," tutupnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya