Penyebab pria di desa malas bekerja & lebih pilih memancing
Merdeka.com - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati ikut komentar terkait fenomena pria desa yang malas bekerja. Menurut Enny, ini terjadi karena pemerintah tidak memberi insentif ekonomi kepada petani yang merupakan mayoritas pekerjaan masyarakat desa.
Enny menyebut, pemerintah selama ini tidak pernah bisa menaikkan nilai tukar petani. Hasil pertanian dibeli sangat murah, sedangkan biaya produksi terus naik.
"Malas itu kan ada sebabnya, ketika nilai tukar pertanian masih rendah, usaha disektor pertanian secara luas seperti perikanan, pangan, perkebunan engga mempunyai nilai ekonomi. Mereka rugi jadi mereka malas," ucap Enny ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Senin (13/7).
Enny secara tegas tidak menyalahkan pria di desa yang malas bekerja. Dia justru mendesak pemerintah agar segera memberi insentif seperti subsidi pupuk, irigasi dipermudah ataupun harga jual petani yang harus segera dinaikkan.
"Mereka bertani rugi. Makanya mereka mendingan mancing daripada menanggung kerugian. Ini yang harus dipahami jangan bilang masyarakat kita malas. malas ada penyebabnya, kalau ada insentif ekonomi walaupun mereka lelah ke sawah masih punya untung," tegasnya.
Namun demikian, Enny mengakui masih ada satu atau dua orang pria di desa yang malas bekerja. "Engga bisa kita bilang semuanya malas," tutupnya.
Sebelumnya, jumlah keluarga miskin di Tanah Harapan, sebuah desa di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, selama kurun waktu empat tahun sejak 2011 hingga akhir 2014 mengalami lonjakan sebesar 300 persen.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 - 2014 jumlah keluarga miskin di desa ini awalnya tercatat hanya 27 keluarga. "Tetapi data terbaru jumlahnya melonjak jadi sebanyak 100 keluarga," kata Kepala Desa Tanah Harapan, Atral seperti dilansir Antara, Senin (13/7).
Desa Tanah Harapan, Kecamatan Kota Mukomuko, memiliki sebanyak 500 kepala keluarga (KK), dengan jumlah mata pilih/penduduk yang memiliki hak pilih sebanyak 1.200 orang. Mayoritas masyarakat di desa itu, kata Atral bekerja sebagai petani kebun kelapa sawit.
Menurut kepala desa, salah satu penyebab angka kemiskinan di daerahnya mengalami peningkatan, karena kebiasaan masyarakat setempat yang lebih memilih menghabiskan waktu bermalas-malasan dibandingkan bekerja. "Kebiasaan para pria di desa ini menghabiskan waktu memancing seharian guna mengurangi waktu mereka bekerja mencari uang," ujarnya.
Atral menjelaskan, dalam sehari saja mereka bisa menghabiskan waktunya minimal tiga jam hanya untuk memancing ikan. Kebiasaan seperti itu, katanya, hampir setiap hari dijalani oleh warga di desanya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya