Pemerintah Malaysia Siap Potong Subsidi BBM Demi Jaga Inflasi
Gubernur Bank Malaysia memperkirakan bahwa tantangan eksternal akan semakin berat pada 2025.
Bank Negara Malaysia (BNM) mengungkapkan bahwa risiko pertumbuhan menjadi faktor penting dalam pertimbangan kebijakan moneternya, seiring dengan meningkatnya perselisihan perdagangan global dan ketegangan geopolitik yang mengancam sektor ekspor.
Gubernur BNM, Abdul Rasheed Ghaffour, memperkirakan bahwa tantangan eksternal akan semakin berat pada 2025, meskipun ia tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan pemerintah sebesar 4,5% hingga 5,5%. Ia mengandalkan pertumbuhan domestik dan struktur ekspor yang beragam untuk membantu perekonomian Malaysia bertahan dari tantangan global setelah ekspansi 5,1% pada tahun sebelumnya.
"Meskipun ada momentum positif pada 2024, kami menyadari adanya hambatan besar yang harus dihadapi," ujarnya dalam laporan tinjauan ekonomi dan moneter tahunan sebagaimana dilansir dari Bloomberg.
"Lingkungan eksternal sangat dinamis dan sulit diprediksi, dan kami tidak bisa berpuas diri."
Akan Berdampak terhadap Kebijakan
Malaysia, yang merupakan eksportir teknologi dan komoditas utama, berusaha menghindari dampak negatif dari perang dagang global, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan China. Ekspor Malaysia ke China tercatat turun 8,1% pada bulan Februari dibandingkan tahun lalu.
Ekonom dari Oversea-Chinese Banking Corp., Lavanya Venkateswaran, mengatakan bahwa pernyataan tersebut mencerminkan pengakuan akan ketidakpastian global dan risiko penurunan pertumbuhan. "BNM tampaknya lebih mengutamakan risiko pertumbuhan daripada risiko inflasi," katanya.
Ketegangan perdagangan dengan AS, terutama terkait dengan rencana tarif pada semikonduktor, menjadi kekhawatiran besar bagi Malaysia. Negara ini merupakan eksportir semikonduktor terbesar keenam di dunia, dengan AS menjadi pasar terbesar ketiga untuk chip semikonduktor Malaysia.
Abdul Rasheed juga menyoroti bahwa peningkatan proteksionisme dan ketegangan geopolitik terus menambah tantangan bagi Malaysia sebagai negara ekonomi kecil dan terbuka. Ia menambahkan bahwa menyempitnya perbedaan suku bunga antara AS dan negara-negara lainnya dapat mendukung stabilitas nilai tukar ringgit dalam jangka panjang.
Ringgit tercatat melemah 0,3% menjadi 4,4350 terhadap dolar setelah laporan tersebut dirilis. Sabrina Edora, analis dari Public Investment Bank, memperingatkan bahwa risiko meningkat pada paruh kedua 2025 akibat penataan ulang rantai pasokan, biaya input yang lebih tinggi, dan melemahnya permintaan eksternal, yang dapat berdampak lebih lanjut pada prospek ekspor Malaysia.
BNM memperkirakan ekspor bruto Malaysia akan tumbuh sebesar 5,2% pada 2025, sedikit melambat dari 5,7% pada tahun sebelumnya. Abdul Rasheed menegaskan bahwa BNM akan terus berpegang pada mandatnya untuk menjaga stabilitas harga yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan dalam kebijakan moneternya.
Pemerintah Malaysia juga berencana untuk mengurangi subsidi bensin RON95 pada pertengahan tahun ini sebagai upaya penghematan dan perbaikan kesehatan fiskal. Meskipun langkah ini dapat memicu kenaikan harga jangka pendek, Abdul Rasheed menyebut dampaknya terhadap inflasi akan terbatas dan sementara.
Inflasi tahunan diperkirakan tetap berada dalam kisaran 2% hingga 3,5%, dan BNM akan terus menilai perkembangan global serta dampak kebijakan domestik dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter.