Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, Puluhan Wisatawan Nekat Masuk Zona Berbahaya

Puluhan wisatawan nekat mendekati hingga menaiki lereng Gunung Anak Krakatau. Pos pantau mengingatkan radius 5 km dan mengungkap dugaan asal kapal.

Ardi Munthe
Oleh Ardi Munthe - Reporter
Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, Puluhan Wisatawan Nekat Masuk Zona Berbahaya
Puluhan wisatawan yang nekat mendekati bahkan menaiki lereng Gunung Anak Krakatau (GAK) meski gunung api tersebut masih berstatus Level III (Siaga) (Istimewa)

Puluhan wisatawan nekat mendekati bahkan menaiki lereng Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda, meski gunung api tersebut masih berstatus Level III (Siaga). Aksi itu memicu kekhawatiran petugas karena kawasan tersebut masih termasuk zona rawan bencana yang dilarang untuk dimasuki.

Berdasarkan foto yang diterima, rombongan wisatawan tiba di kawasan Gunung Anak Krakatau menggunakan kapal motor kayu. Mereka kemudian turun di sekitar pulau sebelum berjalan menuju lereng gunung.

Dalam foto lainnya, sejumlah wisatawan terlihat menaiki lereng yang dipenuhi material abu vulkanik. Aktivitas tersebut dinilai membahayakan keselamatan karena kawasan itu masih berada dalam radius berbahaya.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Andi Suwardi, membenarkan adanya aktivitas wisatawan yang memasuki kawasan tersebut. Keberadaan rombongan itu diketahui ketika tim pemantau sedang melakukan pemeliharaan peralatan di lokasi.

"Iya, kebetulan kemarin ada tim yang sedang melakukan pemeliharaan peralatan di sana dan melihat itu. Kami mengimbau seluruh masyarakat agar mematuhi rekomendasi karena kawasan tersebut masih berbahaya bagi keselamatan," ujar Andi, Senin (3/8).

Andi menduga rombongan wisatawan menggunakan kapal sewaan yang berangkat dari Dermaga Canti menuju Pulau Sebesi sebelum akhirnya mendekati Gunung Anak Krakatau. Namun, pihaknya masih menyelidiki bagaimana rombongan tersebut dapat memasuki area lereng gunung.

"Kami menduga kapalnya berasal dari Sebesi. Kemungkinan wisatawan menyewa kapal dari Canti, tetapi bagaimana mereka bisa sampai ke kawasan gunung masih kami dalami," jelasnya.

Menyikapi kejadian itu, Pos Pantau Gunung Anak Krakatau telah berkoordinasi dengan BPBD, Dinas Pariwisata, serta sejumlah instansi terkait di wilayah Banten. Koordinasi dilakukan untuk memperkuat pengawasan sekaligus mencegah wisatawan kembali memasuki zona berbahaya.

"Kami meminta seluruh pihak ikut mengimbau masyarakat agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Sebelumnya, pihak kecamatan juga sudah mengeluarkan imbauan di wilayah Dermaga Canti," tegasnya.

Meski aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tren menurun, Andi menegaskan status gunung tersebut masih berada pada Level III (Siaga). Erupsi terakhir tercatat pada 25 Juli 2026 dan aktivitas tremor hingga kini masih terus terekam.

"Memang aktivitasnya cenderung menurun, tetapi rekaman tremor masih cukup tinggi. Karena itu, kami tetap memberikan peringatan dini kepada masyarakat," ungkapnya.

Andi kembali mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak memasuki radius 5 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Larangan tersebut bertujuan menghindari risiko letusan maupun lontaran material vulkanik yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

"Imbauannya tetap sama, patuhi rekomendasi dan jangan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif," katanya.

Petugas juga memastikan pengawasan di kawasan Gunung Anak Krakatau akan terus diperketat untuk mencegah masyarakat maupun wisatawan melakukan aktivitas yang dapat membahayakan keselamatan.

Rekomendasi