Palu, Sulawesi Tengah – Sektor jasa keuangan non-bank dan pasar modal di Sulawesi Tengah menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif. Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah mengindikasikan peningkatan signifikan di berbagai lini. Ini mencerminkan kepercayaan masyarakat yang semakin kuat terhadap industri keuangan di wilayah tersebut.
Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, pada Sabtu (30/8) di Palu, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini meliputi sektor pembiayaan, dana pensiun, layanan pendanaan berbasis teknologi informasi (peer-to-peer lending), hingga jumlah investor pasar modal. Perkembangan ini memberikan gambaran optimis terhadap stabilitas ekonomi daerah.
Penyaluran pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan di Sulteng mencapai Rp7,39 triliun per April 2025, naik 15,48% dari tahun sebelumnya. Kualitas pembiayaan juga terjaga dengan tingkat non-performing financing (NPF) yang rendah, hanya 1,85%.
Advertisement
Advertisement
Lonjakan Signifikan pada P2P Lending dan Dana Pensiun
Sektor layanan pendanaan berbasis teknologi informasi atau P2P lending menjadi sorotan utama dengan pertumbuhan yang paling signifikan. Outstanding pinjaman pada April 2025 tercatat Rp558,10 miliar. Angka ini melonjak 58,61% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp352,0 miliar.
Jumlah rekening penerima aktif untuk P2P lending mencapai 167.552 rekening. Meskipun pertumbuhan tinggi, tingkat wanprestasi di atas 90 hari sejak jatuh tempo (TWP90) tetap rendah, yaitu 1,69%. Ini menunjukkan pengelolaan risiko yang efektif dalam layanan P2P lending di Sulteng.
Selain itu, sektor dana pensiun juga mencatatkan kinerja positif. Total aset per April 2025 mencapai Rp106,32 miliar, meningkat 7,36% dari Rp99,05 miliar pada tahun sebelumnya. Total investasi dana pensiun juga naik 8,06% menjadi Rp103,88 miliar.
Advertisement
Advertisement
Pertumbuhan Investor Pasar Modal dan Literasi Keuangan
Sektor pasar modal di Sulawesi Tengah juga tidak kalah pesat dalam pertumbuhannya. Hingga Juni 2025, jumlah rekening investasi di wilayah ini telah mencapai 165.499 rekening. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 32,52% dibandingkan Juni 2024 yang berjumlah sekitar 124.847 rekening.
Reksadana masih mendominasi porsi terbesar dari total investor, dengan 125.323 rekening atau 75,72%. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pasar modal ini mengindikasikan adanya perbaikan signifikan dalam literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Tengah.
Bonny Hardi Putra menegaskan bahwa OJK Sulteng berkomitmen penuh untuk terus memperkuat edukasi dan perlindungan konsumen. Tujuannya adalah agar masyarakat semakin memahami berbagai produk keuangan. Hal ini juga memastikan masyarakat dapat memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Advertisement
Sumber: AntaraNews