Menteri Sri Mulyani beberkan indikator suatu negara alami krisis ekonomi

Jumat, 14 September 2018 19:19 Reporter : Anggun P. Situmorang
Sri Mulyani. ©AFP PHOTO/KAZUHIRO Nogi

Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan beberapa indikator ekonomi yang digunakan untuk melihat krisis tidaknya suatu negara. Dia menegaskan indikator ini merupakan mesin yang terus dijaga oleh pemerintah dan Bank Indonesia.

"Saya akan memberi paparan mengenai perekonomian di dalam konteks 4 pilar. Secara simultan mereka adalah enzim atau mesin tapi juga merupakan suatu sumber bagi kita semua dalam menghadapi situasi ekonomi dunia yang berubah," ujarnya di Hotel Kempinski, Jakarta, Jumat (14/9).

Pilar pertama adalah kondisi moneter. Kondisi moneter ini erat kaitannya dengan pengendalian inflasi yang rendah dalam tiga tahun belakangan. Selama tiga tahun pemerintah menjaga inflasi di kisaran 3,5 persen.

"Tiga tahun berturut menciptakan kredibilitas. Kita stabilkan harga-harga, BI bersama pemerintah terus berupaya tingkat harga dari makanan komoditas yang diatur pemerintah maupun berasal dari demand supply terjaga," jelasnya.

Selain inflasi, indikator lain untuk melihat tingkat kesehatan pilar moneter adalah perbankan. Diukur dari jumlah pertumbuhan kredit, Loan to Deposit Ratio (LDR) serta capital adequacy ratio (CAR) Indonesia stabil dan kuat.

"LDR kita sudah mulai meningkat, growth pertumbuhan kredit kita masuk double digit. Artinya bank lihat kesempatan Indonesia tumbuh dan mendukung ekspansi kreditnya," jelasnya.

Pilar selanjutnya adalah Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Dari sisi ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi telah mencapai 5,17 persen. Inflasi di kisaran 3,5 persen dan Rupiah sampai September berada pada Rp 14.855 per USD.

"Dengan lingkungan makro tersebut, APBN kita tahun ini kira berencana belanja Rp 2.220 triliun dan penerimaan Rp 1.894 triliun. Pendapatan negara terdiri dari pajak bea cukai atau PNBP dari royalti dividen BUMN maupun lainnya," jelasnya.

Sementara itu pilar terakhir dalam menghadapi gejolak ekonomi global adalah neraca pembayaran. Kondisi defisit neraca pembayaran Indonesia pada 2018 memang agak sedikit lebih besar daripada 2017.

"Dalam waktu 2 kuartal kita sudah catat defisit USD 13 miliar, tahun lalu seluruh tahun USD 17 miliar. Ini baru satu semester sudah diatas USD 13,7 miliar. Hampir USD 14 miliar sendiri. Sebetulnya itu tidak apa tapi transaksi modal investasi langsung yang tahun lalu di atas USD 16 miliar. Tahun ini satu semester hanya USD 5,4 miliar," jelasnya.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini